REVIEWLAND.COM®

Kompilasi artikel handphone 2000

Artikel handphone tahun 2000

(review by Budz Kay)

 

SIEMENS S35i REVIEW: (Rp. 2,3 juta)

Siemens S35i membawa mandat untuk menggantikan jabatan dari S25 sebagai handphone Siemens kelas atas. Tidak banyak perubahan yg cukup berarti, kecuali antenna yg dikebiri dari pangkalnya. Selain menebas atribut kejantanannya, Siemens juga mencabut layar LCD berwarna, sehingga akhirnya tampilan layar S35i tidak seperti S25 yg display-nya bergelimang warna-warni. Ini merupakan suatu kemunduran yg cukup mengejutkan bila tidak bisa dibilang sebuah solusi untuk menekan bandrol harga. Namun setidaknya jumlah baris layarnya lebih banyak 1 baris dibandingkan S25. Sementara itu, walapun lebih ringan, tapi keseluruhan ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda dengan saudara tuanya itu. [… lanjut baca]

 

SIEMENS S25 REVIEW: (Rp. 1,3 juta)

Siemens sejak dulu memang sudah berlalu lalang di dunia handphone, sejak handphone masih sebesar sepatu, hingga sekarang mereka tetap pada komitmennya utk menciptakan handphone yg memiliki nilai guna yg tinggi dan design yg bagus. Nama besar Siemens cukup disegani kawan & lawan, dan kualitas produk jerman ini seperti biasanya cukup berkelas. Dari sekian banyak tipe yg disodorkan, S25 merupakan tipe yg paling sempurna dari segi harga & fasilitas. Layar LCD berwarna & fasilitas lengkap merupakan keunggulan S25 dibanding produk merk lain, selain itu S25 memiliki fasilitas Voice record yg mudah diakses dgn tombol di samping. [… lanjut baca]

 

SONY CMD-Z5 REVIEW: (Rp. 3 juta)

Nama Sony memang sudah tidak asing lagi di dunia elektronik. Namun di dunia handphone gaungnya kurang terdengar. Padahal sebenarnya Sony dari dulu sudah memproduksi handphone. Hanya saja karena kurang beruntung maka namanya tenggelam oleh kebesaran raksasa-raksasa semacam Nokia, Ericsson, dan Siemens.
Namun apabila Samsung saja handphonenya dapat cukup sukses, lalu mengapa Sony tidak?
Bisa jadi karena kurang promosi. Sebab setelah saya mencoba CMD-Z5 saya menemukan kecanggihan-kecanggihan yg belum tentu dimiliki oleh handphone secanggih Siemens S35 sekalipun.  [… lanjut baca]

 

PHILIPS XENIUM 939/929: (Rp. 1,7 juta)

Nama Philips memang telah lama terdengar gaungnya di dunia elekronik. Lima tahun terakhir ini produk-produk Philips memiliki design-design yg cukup inovatif & funky. Inovasi & design yg menarik juga ditularkan pada produk handphonenya yaitu Xenium. Walapun nama besar Philips tidak segarang Ericsson & Nokia, namun setidaknya Philips telah menunjukkan usahanya dengan menciptakan design yg kental dengan aroma inovasi. Ini dibuktikan dengan berhasilnya Xenium meraih “Best Design 2000” di daratan eropa. Namun di Indonesia, kemujuran rupanya kurang berpihak pada Xenium. [… lanjut baca]

 

ERICSSON T20: (Rp. 1,6 juta)

Kurang suksesnya penjualan R320, R310, dan A2618 di pasaran membuat Ericsson cukup berang.
A2618 yg target segmennya kawula muda ternyata hanya berakhir sebagai penghias etalase saja.
Dan yg menyedihkan lagi adalah R310 yg dgn ‘”sirip hiu”-nya itu ternyata malah menjadi bahan ejekan di kalangan pengguna handphone.
Gencarnya promosi R310 yg dilakukan Ericsson akhirnya hanya menjadi penghamburan uang utk sesuatu yg tidak mungkin dibeli orang. [… lanjut baca]

 

SIEMENS C35i: (Rp. 1,3 juta)

Bila anda sering nonton MTV anda akan lihat ada hadiah handphone Siemens C35i yg dijanjikan bagi pemenang. Persepsi pertama bagi handphone yg dijadikan hadiah yaitu handphone itu pastilah bukan handphone kelas atas. Lihat saja Nokia 3210, walaupun popular & sering dijadikan hadiah tapi kelasnya termasuk kelas bawah yg tentu saja identik dengan harga yg murah.
Begitu pula C35i, handphone ini diberi mandat untuk menggantikan tugas C25 sebagai handphone kelas bawah. Sebagaimana kita tahu, dulu Siemens mengeluarkan S25 (kelas atas) dan C25 (kelas bawah). Sekarang dengan strategi serupa Siemens mengeluarkan S35i (kelas atas) dan C35i (kelas bawah).
Sebagai handphone yg harganya dibuat lebih murah drpd S35i, tentu saja akan dibanjiri dengan berbagai kekurangan di sana-sini, misalnya absennya beberapa fasilitas penting. [… lanjut baca]

 

SAMSUNG SGH 600: (Rp. 1,3 juta)

Meskipun berasal dari Korea, namun Samsung merupakan produsen handphone Asia satu-satunya yg ternyata mampu mengalahkan dominasi handphone-handphone eropa (Nokia & Ericsson). Sejarah membuktikan bahwa banyak handphone-handphone Asia gagal di pasaran (misal: Sony & Panasonic). Meskipun meluncurkan produk-produk barunya namun Sony dan Panasonic harus menerima kekalahan dalam pertempuran di pasar handphone. Setelah dijadikan bulan-bulanan oleh jago-jago Eropa akhirnya Sony & Panasonic tersungkur dengan luka menganga.
Namun lain halnya dengan Samsung si preman Korea. Walaupun sudah berlalu lalang di pasaran handphone selama satu tahun lebih, namun SGH600 masih sanggup menunjukkan keperkasaanya terhadap pendatang-pendatang baru. Ibarat playboy tua yg goyangannya masih digandrungi tua & muda, begitu pula halnya dengan SGH600 yg masih digandrungi konsumen. Bahkan banyak pengguna setianya yg tidak mau beralih ke penggantinya yg baru, yaitu SGH2400, karena tidak ada perubahan yg cukup berarti pada handphone baru tersebut. Bandrol harga SGH600 juga tergolong jauh lebih murah daripada SGH2400. Selain itu SGH600 lebih ramping dan terkesan lebih kecil drpd SGH2400, meskipun harus diakui bahwa SGH600 sedikit lebih berat dan lebih tebal drpd SGH2400.  [… lanjut baca]

 

PHILIPS OZEO: (Rp. 1,4 juta)

Setelah meluncurkan Xenium beberapa waktu yg lalu, kini Philips meluncurkan Ozeo.
Berbeda dengan Xenium yg diposisikan sebagai kelas atas, Ozeo diposisikan untuk kelas menengah ke bawah. Dengan harga berkisar hanya 1,6 juta saja, Philips berharap Ozeo menjadi mitra tanding yg sepadan bagi Nokia 3210, Siemens C35 / M35 dan Motorola T2688 yg sama-sama merupakan handphone kelas menengah ke bawah.  [… lanjut baca]

 

SIEMENS M35i: (Rp. 1,7 juta)

Rupanya kegagalan Ericsson R250 dipasaran tidak membuat Siemens gentar untuk meluncurkan produk serupa yg juga tahan banting & tahan air. Padahal sebenarnya karakteristik produk semacam ini tidak cocok dengan karakteristik konsumen Indonesia. Sebab kelas-sosial yg aktivitasnya sangat keras hingga harus menahan getaran dan cipratan air adalah kuli bangunan yg notabene adalah golongan yg tidak mampu membeli handphone.
Lain dengan kuli bangunan di eropa yg sanggup membeli handphone,
Selain itu orang Indonesia cenderung memperlakukan handphonenya dengan extra hati-hati. Bahkan kadang handphone yg harganya cuma 1 juta saja hingga harus dilindungi dengan sarung, seolah-olah berharga puluhan juta saja hingga harus dilindungi mati-matian.  [… lanjut baca]

 

NOKIA 3310: (Rp. 1,1 juta)

Setelah sempat mendulang sukses dengan 3210-nya, Nokia berniat mengulang kejayaan dengan meluncurkan 3310.
Dilihat dari sosoknya, 3310 merupakan perpaduan antara design 8210 dengan ukuran 3210.
Sama seperti pendahulunya itu, 3310 juga diperuntukkan bagi kawula muda.  [… lanjut baca]

 

NOKIA 3210: (Rp. 1,1 juta)

Nokia dari dulu memang pas buat anak muda. Design-design yang menarik anak muda membuat handphone ini cukup populer di kalangan mereka. Dibandingkan Nokia tipe-tipe lainnya, 3210 sangat populer di kalangan anak muda terutama cewek, mungkin juga karena harganya cukup terjangkau. Dari hasil survey yg saya lakukan sendiri, bisa dipastikan bahwa 99% ayam kampus memakai handphone ini. Inilah yg kadang membuat risih bila seorang wanita memakai 3210, sebab bisa-bisa disangka ayam kampus. Namun dibalik image buruk yg tercipta oleh pikiran kotor, 3210 menawarkan kecanggihan yg jarang dimiliki handphone merk lain.  [… lanjut baca]

 

MOTOROLA T2688 TALKABOUT: (Rp. 1,3 juta)

Biasanya selain tipe StarTac, bentuk handphone Motorola aneh-aneh, jelek, dan bertubuh bongsor. Namun image itu seakan terhapus dengan kehadiran tipe T2688 Talkabout. Dengan bentuk yg lebih langsing, ringan, dan design yg bagus   T2688 mulai dilirik oleh konsumen. Fasilitasnya tidak terlalu lengkap, namun segala fasilitas yg umum & penting ada tersedia. Bagi yg sering membutuhkan Calculator dan Calendar lebih baik mengambil handphone ini drpd Samsung SGH600.  Dan dibandingkan dengan SGH600, T2688 jauh lebih ringan & tipis. [… lanjut baca]

 

MOTOROLA V8088: (Rp. 3,7 juta)

Setelah kesuksesan V3688 di pasaran, Motorola berusaha mengikuti trend WAP. Seakan tidak mau tertinggal kereta, Motorola melempar V8088 ke pasar. Bandrol harga perdananya memang cukup membuat lutut lemas, tapi harga perlahan akan beranjak turun. Harga yg cukup mahal tersebut sebenarnya bukannya tidak beralasan, sebab tidak seperti Nokia 7110 & Ericsson R320 yg harus mengorbankan ukuran tubuh demi WAP, V8088 ternyata mampu menggendong fasilitas WAP tanpa harus menambah ukuran & berat tubuhnya.  [… lanjut baca]

 

SAMSUNG A100: (Rp. 2,6 juta)

Setelah kesuksesan SGH600, Samsung tidak mampu lagi mengumbar senyum mengingat produk-prduk mereka setelah itu ternyata tidak dapat mencetak kesuksesan di pasar seperti SGH600. Kegagalan SGH800 dan SGH2400 di Indonesia cukup menyakitkan bagi Samsung. Situasi seperti itu tentu saja membuat Samsung kalap, dan tentunya ia harus melakukan sesuatu utk mempertahnkan eksistensinya.
Akhirnya Samsung mencoba menyodorkan A100, yg bertubuh mungil & langsing, tapi rupanya harga perdananya yg semula 4 juta itu dirasa terlampau mahal dan tidak sebanding dengan harga handdhone lain yg fasiltasnya lebih lengkap. Karena itulah setelah peluncuran perdananya, A100 langsung tenggelam dan tidak populer.  [… lanjut baca]

 

MOTOROLA V3688+ with Voice Memo: (Rp. 2,5 juta)

Dibandingkan V3688, Motorola V3688+ memiliki 2 perbedaan mendasar yaitu penambahan fasilitas Voice Dial & Voice Record dan yg paling penting yaitu adanya kemampuan untuk mencatat waktu Missed Call. Pada V3688 absennya pencatatan waktu missed call memang merupakan kelemahan yg telah menimbulkan keresahan di kalangan pengguna handphone tsb, sebab mereka tidak bisa membedakan missed call yg baru saja dan yg sudah lama terjadi. Karena itulah V3688+ hadir sebagai obat pelipur lara bagi orang-orang yg telah dikecewakan V3688. Sedangkan fasilitas Voice Dialnya, walaupun sebenarnya kurang berguna, mampu merekam hingga 30 nomor.
Fasiltas Voice Recordnya dapat merekam hingga 3 menit dan dapat diaktifkan dgn mudah dengan menekan tombol di atas (di samping antenna). Fasilitas ini berguna utk merekam suara anda ataupun pembicaraan telpon. Sebagai misal bila ingin mencatat sesuatu anda cukup mengatakannya sambil merekam suara anda tsb.  [… lanjut baca]

 

NOKIA 8210: (Rp. 2,6 juta)

Nokia 8210 menawarkan fasilitas yg jarang dimiliki oleh Nokia tipe lainnya, yaitu Voice Dial. Di saat saingan-saingannya mulai meluncurkan handphone berkemampuan Voice Dial, seolah tidak mau kalah Nokia ikut memasukkan Voice Dial ke dalam handphone keluarannya.
Namun sayangnya, hanya demi sebuah fasilitas Voice Dial yg sebenarnya tidak terlalu penting, telah mengatrol harga 8210 menjadi sedemikian tinggi.
Selain itu, Voice Dial pada 8210 tidak bisa difungsikan dengan tombol PTT (Push To Talk) pada Handsfree. Ini cukup mengecewakan bila dibandingkan dgn Siemens S35 yg Voice Dialnya bisa menggunakan tombol PTT handsfree.  [… lanjut baca]

 

NOKIA 6210: (Rp. 2,6 juta)

Bila kita melihat bentuk fisiknya, 6210 akan mengingatkan kita pada sosok 6110 yg dulu sempat digandrungi orang karena kelengkapan fasilitasnya.
Seperti tradisi biasanya, handphone Nokia Seri 6xxx bukanlah seri yg mengunggulkan ukuran yg kecil seperti seri 8xxx. Jadi tidaklah mengherankan bila ukuran 6210 tdk bisa dibanggakan. Dalam hal fasilitas, sebenarnya apa yg ada pada 6210 juga ada pada 7110.
Jadi kehadiran 6210 seakan mencoba mengoreksi beberapa kelemahan yg ada pada 7110 yaitu ukuran yg besar dan penggunaan external antenna. [… lanjut baca]

 

SAMSUNG SGH 800: (Rp. 2,5 juta)

Untuk melakukan penetrasi pasar yg didominasi oleh handphone-handpone kakap seperti Nokia, Ericsson, & Motorola, Samsung mengandalkan kelengkapan fasilitas yg dibawa oleh SGH800. Bandrol harga yg lebih murah dibandingkan dgn handphone sejenis cukup membuat musuh-musuhnya kelabakan. Bentuknya yg mirip Motorola V3688, membuat beberapa orang membandingkan keduanya. Dilihat dari segi kelengkapan fasilitas, bila Motorola V3688 harus melawan SGH800, maka Motorola akan terkapar dengan usus terburai.
Dengan harga yg hampir sama SGH800 akan menelanjangi Motorola dihadapan anak istrinya.
Fasilitas SGH800 bisa dibilang hampir sempurna, ibarat preman berotot yg dibeking oknum aparat, jelas cukup sulit untuk mengalahkannya. [… lanjut baca]

 

MOTOROLA V3688: (Rp. 2 juta)

Tidak seperti tipe-tipe Motorola yg lain, tipe V-series adalah jagoan andalan dari Motorola. Ibarat tukang pukul yg mampu menggulung lawan-lawan bosnya, V3688 dengan segala keunggulannya dari segi fisiknya mampu merobek perut pesaing-pesaingnya. Sampai saat ini dari segi fisiknya yaitu berat, belum ada handphone lain yg beratnya dibawah 70gram. Dan dalam kondisi tertutup ukurannya sangat kecil sekali. Namun bandrol harga yg cukup tinggi dapat membuat beberapa peminat mundur teratur.
Tapi meskipun harganya cukup mahal, sebenarnya V3688 lebih murah drpd Nokia 8210 yg merupakan handphone teringan keluaran Nokia. Tidak hanya itu saja, V3688 juga 9 gram lebih ringan drpd handphone Nokia tsb. Sayangnya keunggulan fisiknya tersebut tidak dibarengi dengan fasilitas yg lengkap. Absennnya beberapa fasilitas penting menyebabkan beberapa pemiliknya merana kecewa. [… lanjut baca]

 

ERICSSON T28: (Rp. 1,8 juta)

Sejak dulu Ericsson selalu lebih mementingkan ukuran yg kecil & ringan ketimbang kompleksitas design. Dari segi design Nokia memang cenderung lebih unggul, namun design Nokia yg bagus memang harus ditebus dengan ukuran yg lebih besar & berat. Tapi karena tidak mau mau kalah, akhirnya Ericsson meluncurkan T28s yg ukurannya kecil, sangat tipis (tebalnya hanya 15mm), dan designnya juga artistik. Menggunakan blue back lit LCD tampilan displaynya terasa beda sekali dengan handphone yg lain.
Walaupun ukurannya kecil, T28 sarat dengan berbagai macam fasilitas yg terbilang cukup lengkap. Ini berbeda dengan Motorola V3688 yg kecil tapi minim fasilitas. [… lanjut baca]

 

MOTOROLA TIMEPORT P7689: (Rp. 2,6 juta)

Motorola Timeport P7689 mengikrarkan dirinya sebagai hanphone triband, yaitu handphone yg mampu beroperasi pada GSM 900/1880/1900. Namun utk masyarakat indonesia keunggulan tersebut sama sekali tidak ada gunanya, karena provider GSM indonesia hanya menganut GSM900. Jadi jelas fasilitas Triband yg ada pada P7689 tidak akan dianggap sebagai keunggulan, karena tidak ada manfaatnya bagi konsumen indonesia. Maka dari itu sangatlah tidak bijaksana bila harga P7689 dipatok lebih mahal dengan alasan membawa fasilitas Triband. [… lanjut baca]

 

ERICSSON A2618: (Rp. 1,4 juta)

Ericsson A2618 membanggakan kelebihannya dalam hal Snap-On cover dan Logo graphic. Handphone ini adalah handphone Ericsson pertama yg membawa 2 kelebihan di atas. Namun sebenarnya 2 kelebihan tsb bukanlah sesuatu yg patut dibanggakan, karena hal tsb sudah dilakukan oleh produsen Handphone lain sejak dahulu kala. Jadi sebenarnya kelebihan yg terdapat pada A2618 bukanlah merupakan suatu “upaya inovasi” tapi hanyalah merupakan “upaya Ericsson mengejar ketinggalan” [… lanjut baca]

 

ERICSSON T10: (Rp. 1 juta)

Ericsson T10 diluncurkan untuk menyaingi Nokia 3210 yg target marketnya sama-sama anak muda. Walaupun dalam realita di pasar Nokia 3210 terbukti lebih sukses dan populer, tapi setidaknya Ericsson telah berusaha. Ukurannya yg lebih kecil & ringan setidaknya merupakan keunggulan yg jelas terlihat dibandingkan dengan Nokia 3210. Namun tidak seperti Nokia 3210, casing T10 tidak dapat dilepas dengan mudah, dan design T10 memang tidak sebagus Nokia 3210. Namun kelemahan ini segera dikompensasi dengan adanya asesoris tambahan seperti FM radio & chatboard yg sebenarnya saya pikir kurang begitu berguna. Bila dilihat dari segi fasilitas, Nokia 3210 sedikit lebih unggul drpd T10, absennya fasilitas game merupakan suatu ironi, mengingat sasaran konsumennya adalah anak muda.  [… lanjut baca]

 

SIEMENS C25: (Rp. 700 ribu)

Tidak seperti Siemens S25, C25 hadir dengan berbagai macam kekurangan, antara lain bentuknya yg lebih tebal dan lebih berat daripada S25. Designnya pun sangat jelek. Andaikan C25 itu seorang wanita, maka postur tubuhnya tak mampu membangkitkan birahi pria di sekelilingnya. Dan tentu saja obral harga menjadi jalan terakhir untuk mendapatkan pelanggan.
Harga murah memang menjadi andalannya, namun selisih harga yg sangat sedikit dengan Nokia 3210 dan Ericsson T10 menjadikan C35 bukan lagi pilihan yg tepat.  [… lanjut baca]

 

ERICSSON R320: (Rp. 3 juta)

Nama Ericsson memang masih cukup terhormat di kalangan pengguna handphone. Beberapa tahun yg lalu Ericsson memang merajai pasar handphone. Tapi akhitr akhir ini produk-produknya digoyang bebrapa skandal memalukan, antara lain problem batere pada T10, problem flip & batere pada T28, gagalnya R250 di pasaran, hingga dominasi Nokia yg mulai menggerogoti pangsa pasar Ericsson. Tapi berbagai pengalaman traumatis tersebut tidak mengurangi semangat juang Ericsson untuk tetap exist di bumi pertiwi.
Beberapa pengguna Ericsson mungkin cukup kapok setelah mendapati T28-nya sering bermasalah dan harus bolak-balik ke servis center, hal-hal seperti ini bila berkelanjutran tentunya akan berbuah petaka bagi Ericsson. [… lanjut baca]

 

NOKIA 7110: (Rp. 2,5 juta)

Demi sebuah fungsi yg belum terlalu diperlukan relakah anda mengorbankan ukuran yg kecil?
Begitulah kira-kira gambaran mengenai 7110 yg harus bertubuh raksasa demi fasilitas WAP yg digotongnya. Padahal hingga saat ini WAP masih belum populer.
Ukuran 7110 jauh lebih besar daripada Nokia 3210. Layarnya yg lebar dimaksudkan agar dapat menampilkan 6 baris display. Padahal Siemens S35 yg jumlah barisnya sama dan juga memilki WAP ukurannya jauh lebih kecil. Selain dari design yg cukup menarik, sebenarnya tidak ada alasan kuat untuk membeli handphone ini. [… lanjut baca]

 

SAMSUNG SGH 2400: (Rp. 1,8 juta)

Munculnya Samsung SGH 2400 yg dimaksudkan untuk menggantikan SGH 600 cukup mengecewakan. Selain Dual Band yg tidak berguna di Indonesia, tidak ada perubahan yg cukup berarti. Dan bandrol harganya yg cukup mahal sangatlah tidak wajar, penetapan harganya seperti merupakan hasil kongkalikong antara cukong tebu dan pejabat pemda. Dengan harga yg terlalu tinggi untuk fasilitas yg sama persis sepeti SGH 600, harga itu bisa dibilang harga KKN.
Jadi andaikan SGH 2400 itu sebuah proyek, maka dia adalah sebuah proyek yg sarat dengan muatan politis Orde Baru. Ini karena nilai guna yg diberikan kecil, namun dana yg dikucurkan cukup besar. [… lanjut baca]

 

PANASONIC GD90: (Rp. 1,8 juta)

Panasonic GD90 ibarat anak haram yg kelahirannya bahkan disesali oleh ibunya sendiri. Panasonic mungkin menyesal mengapa GD90 tidak diaborsi saja sebelum lahir. Sebab percuma saja bila akhirnya GD90 lahir hanya untuk gagal di pasaran. Ini semua karena GD90 tidak memiliiki bekal apapun untuk terjun ke dalam kancah persaingan yg cukup kejam.
Dari merknya saja Panasonic bukanlah apa-apa dibanding raksasa semacam Nokia & Ericsson. Dan konyolnya lagi fasilitas yg dibawanya tidak bisa menyelamatkannya dari pembantaian massal yg akan dilakukan oleh musuh-musuhnya itu.  Akhirnya Panasonic harus pasrah dan berlapang dada ketika menyaksikan GD90 babak belur dijadikan bulan-bulanan dan dimangsa oleh lawan-lawannya yg cukup beringas. Ini bisa dilihat dari penjualan GD90 di pasaran. Kita semua bisa menyaksikan bahwa Panasonic benar-benar dihabisi oleh lawan-lawannya dengan cara yg keji. [… lanjut baca]

 

NOKIA 8850: (Rp. 4,9 juta)

Relakah anda mengeluarkan uang hampir 6 juta untuk sebuah handphone?
Inilah pertanyaan pertama yg harus dijawab bagi orang yg berniat membeli Nokia 8850. Bagi yg tetap berniat memilikinya tentunya design 8850 yg anggun menjadi alasan kuat dibalik keinginannya. Bandrol Harga yg tinggi dapat membuat beberapa orang mengurungkan niat mereka untuk memilikinya. Tebusan yg harus dibayar dengan mahal tersebut bahkan telah membuat beberapa orang tersentak kaget dan harus dipapah untuk keluar dari toko. Mereka akhirnya harus pulang dengan tangan hampa dan gurat kekecewaan di wajah. [… lanjut baca]

 

ERICSSON R310: (Rp. 2,5 juta)

Rupanya Ericsson masih belum belajar dari kegagalan R250 di pasaran. Handphone tahan banting/air bukanlah selera konsumen Indonesia.
Mungkin Ericsson terpancing mengeluarakan handphone tahan banting lagi karena melihat kesuksesan Siemens M35i yg juga merupakan handphone tahan banting/air. Tapi perlu diketahui bahwa yg disukai konsumen dari Siemens M35i bukanlah karena faktor tahan banting-nya tapi karena internal antennna, WAP, ukuran yg cukup kecil, dan harga yg terjangkau.
Sedangkan R310 adalah handphone berukuran raksasa. Selain besar, panjang, juga amat sangat berat.
Bandingkan saja, bila Siemens M35i beratnya hanya 125gr, R130 berbobot 170gr. Konyolnya lagi, disaat produsen handphone yg lain seperti Siemens & Nokia berlomba-lomba untuk memangkas antenna, Ericsson malah memperbesar ukuran antenna. Entah karena Ericsson sudah kehabisan akal atau ingin tampil beda, tapi yg jelas ukuran antenna yg besar tsb sangat merepotkan dan menyiksa. Terutama bila dimasukkan kantong celana antena tsb akan menusuk-nusuk dan sangat memakan tempat. [… lanjut baca]

 

ERICSSON T18: (Rp. 1,4 juta)

Ericsson T18 yg dibekali dengan fasilitas Voice Dial & Active flip dijagokan sebagai rival SGH600 dan Siemens S25. Namun sialnya, T18 malah menjadi bulan-bulanan kedua pesaingnya tersebut. Nama besar Ericsson ternyata belum mampu mengangkat T18 ke atas panggung kemenangan.
Dan karena hanya berbekal nama besar saja tanpa keunggulan yg berarti, akhirnya nasib T18 berakhir tragis seperti perawan lugu yg menjadi santapan anak-anak pejabat. [… lanjut baca]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Gadget & Teknologi

Review SmartphoneReview Camera & LensaReview Console & Portable Gaming         The Eye of RE         Review PC & LaptopReview PC & LaptopReview PC & Laptop

"In Hoc Signo Vides"
Behold The Eye of RE