REVIEWLAND.COM®

Duel CPU Intel & AMD harga Rp.3 juta tahun 2022 : Core i5 12400F vs Ryzen 7 5700X

Di harga Rp.3 juta hanya ada 2 prosesor terbaik yg ada di pasaran, yaitu Intel Core i5 12400F dan AMD Ryzen 7 5700X. Prosesor Intel generasi 12 itu dibekali 6 core (12 thread), sedangkan prosesor AMD Ryzen seri 5000 itu dibekali 8 core (16 thread).

Adilkah pertarungan 6 core vs. 8 core?

Tentu saja sangat adil karena kedua prosesor itu berada di harga yg sama. Yang artinya,  itulah pilihan yg sesuai budget konsumen dengan dana Rp.3 juta. Bahkan sebetulnya budget PC overallnya pun masih lebih murah jika pakai Ryzen 7 5700X, karena harga motherboard untuk Ryzen seri baru itu murah meriah, bahkan lebih murah Rp.1 juta – Rp.2 juta ketimbang motherboard untuk prosesor intel generasi 12 yg terkenal mahal motherboardnya.
Jadi secara overall system, harga PC berbasis Ryzen 7 5700X (8 core) bisa lebih murah Rp.1 juta – Rp.2 juta sekalipun harga prosesornya sama dengan Core i5 12400F (6 core) yaitu Rp.3 juta.

Duel balap mobil mesin V6 versus mesin V8 adalah sesuatu yg umum diadakan, terutama di kelas mobil yg harganya juga hampir setara (Nissan 370Z vs. Dodge Challenger RT)

Ibarat balap mobil mesin V6 vs. V8 yang juga umum di dunia otomotif

Duel antara prosesor 6 core vs 8 core ini ibarat balap lomba mobil antara Nissan 370Z (bermesin V6 4000 cc) melawan Dodge Challenger RT (bermesin V8 5700 cc)
Kedua mobil ini sering dibandingkan & dilombakan juga di Amerika, karena harganya sama-sama $40ribu (Rp.600juta), walaupun jenis mesin dan cc-nya beda (V6 vs.V8).

Meski spek mesin maupun style nya beda (Muscle car vs Japanese sport car), tapi kedua mobil itu sangat populer dan sering jadi perbandingan pilihan karena harganya yg sama-sama cuma setara 15X gaji UMR orang Amerika, atau bisa diibaratkan serasa membeli mobil/motor seharga Rp.60juta bagi orang Indonesia.

Seandainya mobil Mercy harganya sama dengan Becak, maka keduanya juga sangat adil untuk dilombakan & ditandingkan, karena dengan harga yg sama, konsumen tentu akan dihadapkan pada pilihan membeli Mercy atau Becak.

Karena yg penting adalah perbandingan kinerja di harga yg sama, bukan soal apa dan bagaimana mesin yg dipakai & bentuknya. Karena itulah duel Nissan 370Z (V6 engine) vs Dodge Challenger RT (V8 engine) sesuatu yg umum dilombakan dan juga tidak pernah dipermasalahkan unsur keadilannya.

Sama halnya sebuah Cincin kawin dari emas akan menjadi sangat layak & sangat adil untuk dibandingkan dengan cincin kawin dari kawat berkarat, jika harga keduanya ternyata sama.

Oleh karena itu bila cincin emas harganya sama dengan cincin kawat berkarat, maka keduanya sangat layak & sangat pantas ditawarkan kepada konsumen, dan biarkan mereka yg memilih dengan akal sehatnya.

Harga pasaran Core i5 12400F dan Ryzen 7 5700X sama-sama di kisaran Rp.3 juta pada bulan November 2022. Harap diingat juga bahwa harga motherboard untuk Core i5 12400F lebih mahal 2X lipat dibanding harga motherboard untuk Ryzen 7 5700X (selisih harga motherboardnya bisa sekitar Rp.1 juta sendiri)

Prosesor harga Rp.3 juta umum digunakan di PC harga kisaran Rp.10juta

Biasanya, PC yg menggunakan prosesor seharga Rp.3 juta adalah PC Gaming/Rendering/Video Editing/Content Creation yg harganya berkisar Rp.10 juta (dengan asumsi speknya menggunakan motherboard kisaran Rp. 1,5juta, VGA card kelas mainstream kisaran Rp.3 juta , memory 16GB kisaran Rp. 800ribu, PSU 500 watt kisaran Rp.500 ribu, dan SSD/NVME 120GB atau sesuai kebutuhan)

Calon pembeli PC dengan budget anggaran Rp.10juta akan dihadapkan pada pilihan 2 prosesor terbaik yg harganya sama-sama Rp.3 juta, yaitu

Core i5 12400F (6 core / 12 thread)

Ryzen 7 5700X (8 core / 16 thread)

 

 

Mengapa tidak diadu dengan prosesor 8 core intel (Core i7) ?

 

Karena ini adalah perbandingan prosesor dengan harga Rp.3 juta, sedangkan prosesor 8 core Intel (Core i7) harganya sangat mahal (Rp.4,5 juta lebih), dan dengan harga yg jauh lebih mahal itu belum tentu lebih kencang pula.

Sebagai contoh, Core i7 10700F (8 core) yg notabene masih gen 10 saja harganya saat ini masih berkisar Rp.4,5 juta (yang gen 11 dan 12 jauh lebih mahal lagi), dan prosesor Core i7 gen 10 dengan 8 core ini bahkan masih kalah kinerjanya dibanding prosesor 6 core gen 12 (Core i5 12400F) maupun prosesor AMD 8 core (Ryzen 7 5700X) yg harganya cuma Rp.3 juta

Dalam beberapa pengujian, disertakan pula hasil benchmark Core i7 10700F (8 core) sebagai bahan perbandingan, yg ternyata hasilnya justru mempermalukan prosesor Core i7 (8 core) yg jauh lebih mahal itu.

  • Hasil benchmark lainnya yg lebih lengkap di bagian Pengujian

Dua hasil benchmark diatas membuktikan bahwa mengikutsertakan prosesor Intel 8 core (Core i7) yg jauh lebih mahal dalam duel prosesor kelas Rp.3 juta malah membuat prosesor intel 8 core itu jadi bahan tertawaan. Karena sudah lebih mahal, kalah pula.

Namun pada intinya yg dibandingkan di artikel ini adalah prosesor seharga Rp. 3 juta, karena tanpa adanya patokan harga, maka perbandingan akan menjadi terlalu meluas & melebar diluar konteks, akibatnya malah tidak realistis lagi. Karena mayoritas konsumen dibatasi budget, itulah realitanya!

Dalam realita, konsumen akan membandingkan, memilih & membeli prosesor sesuai budget, dimana budget Rp.3 juta yg jadi pembahasan di artikel ini.
Atau dalam bahasa kaum pedagang: “Buat apa menawarkan hingga berbusa-busa barang yg harganya diluar budget si pembeli? toh dia tidak akan mampu beli. Tawarkan saja pilihan-pilihan yg realistis sesuai budget dia”

Intel Core i5 12400F (6 core/12 thread)

Harga baru Rp. 3 juta

PERHATIAN: Harga motherboard untuk prosesor intel gen 12 lebih mahal hampir 2X lipat.

Harga motherboard termurah yg bisa menggunakan prosesor ini : Rp.1,35 juta (chipset H610)

Harga motherboad kelas menengah untuk prosesor ini: Rp.2,5 juta-Rp.3 juta (chipset B660)

 

Prosesor Intel generasi 12 ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2022 dengan codename “Alder Lake” (10nm).
Teknologi fabrikasinya memang belum mampu 7nm seperti prosesor AMD, namun Intel mengklaim bahwa teknologi 10nm “Enhanced SuperFin” sudah bisa disetarakan dengan rilisan TSMC dan Samsung 7nm (tapi itu katanya intel, karena TSMC dan Samsung pasti bilangnya tidak begitu).

Kehadiran Intel generasi 12 (Alder Lake) ini untuk memperbaiki cacat pada generasi 11 (Rocket Lake, 14nm) yang konon disebut “produk gagal” karena malah lebih panas & boros daya tanpa memberikan peningkatan kinerja gaming ketimbang generasi 10 (Comet Lake) yg juga berbasis 14nm. Karena itulah umat Intel sebaiknya membeli prosesor generasi 9, 10 atau 12, dan men-skip generasi 11.

Core i5 12400F memiliki 6 core dengan HT (12 thread) dengan clock standard 2,4 GHz  dan clock Turbo 4 GHz (4 core) / 4,4 GHz (1 core).
Prosesor ini dibekali L2 cache 7,5MB dan L3 cache sebesar 18MB.

Karena Alderlake sudah mengadopsi fabrikasi 10nm yg tentu lebih baik ketimbang 14nm, maka suhunya lebih adem ketimbang pendahulunya, dengan TDP yg juga 65 watt yg sama seperti rivalnya Ryzen 7 5700X yg dibekali jumlah core lebih banyak.

Meski demikian, secara kinerja, Core i5 12400F yg berbekal 6 core dan 18MB cache terlihat kewalahan ketika menghadapi  rivalnya yg 8 core dan memiliki cache nyaris 2X lebih besar.
Selain itu karena AMD menggunakan teknologi 7nm, maka konsumsi daya prosesor 8 core AMD tetap setara prosesor intel 6 core yg teknologinya masih 10nm
Design arsitektur multi-core intel yg “monolithic” membuatnya harga prosesornya lebih mahal ketimbang prosesor AMD yg memiliki jumlah core yg sama. Karena itulah di harga yg sama, yg terjadi adalah duel 6core intel vs. 8core AMD yg agak bisa ditebak pemenangnya.

Karena Alder Lake termasuk prosesor generasi baru yg dirilis pada Kuartal 1 tahun 2022, maka tentu saja mustahil kompatibel dengan motherboard yg dirilis sebelum tahun 2022.
Motherboard H510/B560 yg populer di tahun 2021 itu hanya kompatibel dengan prosesor intel generasi 10 (Comet Lake) & generasi 11 (Rocket Lake) yg menggunakan socket LGA 1200. Jadi tidak akan kompatibel socketnya dengan Intel generasi 12 (Alder Lake) yg menggunakan socket LGA 1700.

 

AMD Ryzen 7 5700X (8 core/16 thread)

Harga baru Rp. 3,1 juta

PERHATIAN: Prosesor ini tidak membutuhkan motherboard mahal, dan bisa jalan di motherboard jaman purba & motherboard kelas cacing sekalipun

Harga motherboard termurah yg bisa menggunakan prosesor ini : cuma Rp.700 ribuan saja (chipset X370)
Harga motherboad kelas menengah untuk prosesor ini: Rp.1,3 juta- Rp.1,6 juta (chipset B450-B550)

Prosesor AMD Ryzen generasi 4 yang berbasis arsitektur Zen 3 ini diluncurkan pada kuartal ke 2 tahun 2022 dengan codename “Vermeer” (7 nm).
Ini berarti usia Ryzen 7 5700X lebih muda 1 bulan ketimbang Core i5 12400F.

Ryzen 7 5700X memiliki 8 core + HT (16 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 4,2 GHz (4 core) / 4,6 GHz (1 core).
Meski dibekali jumlah core lebih bayak, namun prosesor ini harganya sama dengan  Intel Core i5 12400F yg cuma dibekali 6 core.

Vermeer adalah generasi prosesor baru yang berbasis proses manufaktur 7 nm yg makin disempurnakan, sehingga walaupun Ryzen 7 5700X mengusung 8 core, namun TDP nya sama-sama 65 watt seperti Intel Core i5 12400F yg cuma dibekali 6 core saja.
Jadi berbeda dengan mobil bermesin V8 yg lebih boros bensin ketimbang mobil bermesin V6, di dunia prosesor, 8 core tidak selalu berarti lebih boros listrik ketimbang 6 core.

Selain mengandalkan jumlah core yg lebih banyak (8 core), Ryzen 7 5700X juga mengandalkan jumlah Cache besar & berlimpah yaitu total sebesar 36MB, yg terdiri dari L2 cache 4MB dan L3 cache raksasa sebesar 32MB (total cache 36MB). Jauh lebih besar dibanding cache Core i5 12400F yg cuma 18MB saja.
Cache yg besar ini terbukti mampu mendongkrak kinerja game, dan mampu membuat prosesor ini menyaingi intel di area tersebut.
Dengan arsitektur multi-core berbentuk “chiplet”, AMD memang mampu menyuguhkan jumlah core dengan biaya lebih murah ketimbang Intel yg menggunakan artsitektur multi-core berbentuk “monolithic”.

Walaupun termasuk prosesor generasi baru yg dirilis pada Kuartal 2 tahun 2022 ini (bahkan lebih muda ketimbang Core i3 12400F), namun prosesor AMD ini tetap saja kompatibel dengan motherboard jaman purba (X370) yg sudah ada sejak tahun 2017 di era Ryzen generasi 1.
Ini karena AMD tetap saja setia menggunakan socket AM4 yg sama sejak Ryzen generasi pertama. Motherboard chipset jaman purba (X370) juga masih diproduksi sampai sekarang karena juga masih kompatibel dengan prosesor-prosesor AMD keluaran baru

 

Kompatibilitas Lintas Generasi hanya ada di dunia AMD

Kompatibilitas lintas generasi adalah sesuatu yg mustahil di dunia Intel. Karena Intel menganut tradisi bahwa kalau kita mau upgrade prosesor maka wajib hukumnya upgrade motherboard juga.
Inilah yg membuat AMD memiliki banyak loyalis setia, terutama orang-orang  yg jengkel dengan Intel karena tak rela merogoh kocek untuk ganti motherboard ketika ingin mengupgrade prosesor.

Bahkan cooler prosesor AMD Athlon64 & Sempron di tahun 2006, yaitu jaman DDR2 (socket AM2) terbukti masih kompatibel dengan AMD Ryzen keluaran paling baru. Suatu kompatibilitas yg fenomenal sekaligus ajaib.
Ini artinya, cooler prosesor AMD yg dibeli sekitar 20 tahun yg lalu masih bisa dipakai di prosesor Ryzen generasi paling baru. Sesuatu yg mustahil di dunia intel yg gemar gonta-ganti socket.
Jadi jangan heran jika ada pengguna AMD Ryzen yg masih menggunakan  cooler jaman purba ala prasasti legendaris yg usianya bahkan lebih tua ketimbang usia mahasiswa yg mulai berkumis.

Overclock adalah sesuatu yg Gratis di AMD

Ciri khas keunggulan prosesor AMD adalah semua prosesornya selalu bisa dioverclock (multiplier unlock), dengan menggunakan motherboard jaman purba sekalipun (chipset B350 dan X370).
Jelas berbeda dengan prosesor intel yg tidak bisa dioverclock (multiplier locked), kecuali Intel tipe tertentu saja (seri K) yg dijual lebih mahal karena unlock multiplier ala AMD. Untuk overclocking  prosesor Intel dengan cara menaikkan multiplier bukan hanya membutuhkan prosesor intel tipe khusus saja (seri K) tapi juga dibutuhkan motherboard seri termahal (chipset seri Z)

Hanya AMD yg prosesor terbarunya bisa jalan di motherboard “jaman purba”

Berkat kompatibilitas lintas generasi prosesor AMD Ryzen, maka banyak pengguna prosesor Ryzen terbaru masih bisa menggunakan motherboard lawasnya yg berchipset A320/B350/X370.
AMD sengaja melakukan hal ini agar penggemar setianya bisa langsung upgrade ke prosesor terbaru tanpa harus berpikir 1000X untuk mengganti motherboard

Namun menggunakan motherboard jaman purba dengan prosesor terbaru tentu akan sedikit menurunkan kinerja, karena motherboard jaman purba biasanya hanya bisa mendukung spek memory hingga maximum di kisaran DDR4 3000-3200 saja. Sedangkan motherboard generasi yg lebih baru (chipset B450 dan B550) mampu mendukung memory DDR4 3600 hingga DDR4 5000 (jika mau & mampu membeli memory DDR4 4000 ke atas yg harganya 2X lebih mahal ketimbang DDR4 3200).

Namun penurunan akibat memory clock DDR4 yg berjalan lebih rendah di motherboard lawas  itu bisa diatasi/dikompensasi oleh pengguna AMD dengan meng-overclock prosesornya. Karena prosesor AMD tetap bisa dioverclock menggunakan  motherboard jaman purba sekalipun (chipset X370, B350)

Terkadang banyak pula pengguna AMD yg memorynya ternyata juga masih DDR4 3000, bahkan ada yg masih DDR4 2400. Dengan kondisi semacam itu, mengupgrade motherboard adalah suatu kesia-siaan dan akan lebih optimal jika dana yg ada dipakai sepenuhnya untuk mengupgrade prosesor saja, dan sekalian yg gahar yaitu prosesor 8 Core seperti Ryzen 7 5700X ini.

Karena ketika anda ditanya apa prosesornya dan menyebut 8 core Ryzen 7 5700X, orang mungkin sudah tidak bertanya lagi apa motherboardnya.

Karena memiliki prosesor 8 core generasi baru adalah suatu kebanggaan tersendiri, sama seperti kebanggaan pemilik mobil bermesin V8.
Kebanggaan itu tentu saja bisa menutupi suatu fakta memilukan bahwa motherboard yg digunakan sebetulnya masih motherboard lawas era jaman purba dulu (jaman Ryzen pertama).

 

 

Motherboard untuk Ryzen 7 5700X

Orang-orang yg membeli PC baru dengan prosesor kelas harga Rp.3 juta (bukan mengupgrade prosesor PC lama), biasanya tidak membeli motherboard generasi jaman purba (X370) yg harga barunya saat ini cuma kisaran Rp.750 ribu, tapi pastilah “demi gengsi” memilih motherboard generasi baru kelas menengah-atas yang harganya Rp.1,5 juta ke atas.
Kecuali jika budgetnya sangat mepet tapi tetap ngotot ingin memiliki Ryzen 7 5700X, barulah mereka terpaksa memilih motherboard X370 yg murah meriah.

Motherboard Asrock seri “Steel legend’ adalah motherboad kelas menengah-atas yg paling laris dan populer untuk Intel & AMD. Kesuksesan itu berkat design yg keren dan adanya onboard RGB LED di sekujur tubuh motherboard itu, yg tentunya disukai generasi milenial & penganut ideologi “no RGB, no Party”.

Asrock di Indonesia didistribusikan oleh distributor resmi ternama yaitu eMD (E-Media Device) dengan garansi yg cukup lama yaitu 3 tahun. Soal garansi tentu tak perlu khawatir karena eMD adalah distributor resmi yg kredible dan pemain lama.

 

 

Asrock B450M “Steel Legend” (kompatibel untuk Ryzen 7 5700X)

Harga baru: Rp. 1,3 juta

Bila modul memory DDR4 yg akan dipakai adalah DDR4 3500 ke bawah, maka motherboard ini paling tepat dipilih, karena ini merupakan seri “Steel Legend” yg sangat mewah & keren tampilannya. Harganya pun jauh lebih murah ketimbang “Steel Legend” yg untuk Intel generasi 12. Selisih harganya antara Steel Legend untuk Intel & AMD bahkan sebesar Rp.1,2 juta !!!
Selisih sebesar ini dijamin membuat pengguna intel mundur teratur, apalagi bila melihat perbandingan kinerja Core i5 12400F vs Ryzen7 5700X.

Asrock B450M “Steel Legend” termasuk salah satu motherboard kasta bangsawan dengan tampilan RGB blink-blink  yg disukai kaum milenial.
Motherboard ini dilengkapi I/O panel shroud dengan design futuristik dan LED bar yg membuat tampilannya terlihat mewah & mahal, walaupun sebetulnya tidak mahal, karena cuma Rp.1,3 juta seperti harga umumnya motherboard yg berpenampilan polos & tanpa RGB.
Padahal d
i sekujur tubuh motherboard ini bertatahkan RGB LED, yaitu di bagian I/O panel shroud dan heatsink chipset.

Motherboard ini mendukung kecepatan memory hingga maximum DDR4 3500. Jika memory yg anda pakai cuma DDR4 3200 atau mungkin bahkan cuma DDR4 3000, maka motherboard ini adalah pilihan yg paling tepat. Tampilannya bahkan lebih keren ketimbang Asrock B550M Pro 4 yg lebih mahal tapi menggunakan chipset lebih baru (B550) yg mendukung memory DDR4 yg kecepatannya lebih tinggi (mendukung hingga DDR4 5000)
Tapi harap diingat juga bahwa harga memory DDR4 4000 biasanya 2X lebih mahal ketimbang memory DDR4 3200.

Chipset B550 (penerus B450) juga menawarkan fitur AMD Smart Memory Access (SAM) yg dapat mendongkrak kinerja game 5%-10%. Namun fitur SAM itu hanya bisa berfungsi jika menggunakan VGA card Radeon seri RX 6000 saja.
Jadi pengguna VGA card Nvidia tidak akan melihat motherboard ber-chipset B550 sebagai suatu keharusan, dan bisa memilih chipset B450 yg jauh lebih murah, terutama jika memory yg digunakan DDR4 3500 ke bawah.

Bila VGA card yg anda gunakan Nvidia Geforce dan memory DDR4 yg anda pakai juga masih DDR4 3500 ke bawah, lupakan obsesi membeli motherboard B550 yg lebih mahal. Motherboard “kelas mewah tapi murah” seperti B450 Steel Legend ini akan lebih sexy & menggoda karena jauh lebih murah & terjangkau.

Namun bila memory yg anda gunakan DDR4 3500 ke atas, dan anda menggunakan VGA card Radeon seri RX 6000, maka motherboard ber-chipset B550 di bawah ini akan ideal untuk dipilih

 

Asrock B550M Pro 4 (kompatibel untuk Ryzen 7 5700X)

Harga baru: Rp. 1,6 juta


Karena kastanya bukan “Steel Legend” maka secara tampilan estetika masih kalah gahar ketimbang B450 “Steel Legend”, meskipun dibekali chipset B550 yg lebih baru ketimbang B450.

Selain itu motherboard ini juga tidak dibekali onboard RGB LED, walaupun tersedia header untuk asesori RGB dan dukungan software Asrock Polychrome Sync & RGB. Secara kasta, seri Pro4 memang dibawah seri Steel Legend, terlepas chipset yg digunakan motherboard lebih baru (B550)

Namun sekalipun tidak berkasta “Steel Legend”, motherboard ini masih dibekali I/O panel shroud yg mendongkrak tampilannya agar tidak terlihat seperti motherboard kasta “kere hore” kelas cacing.

Karena dibekali chipset B550 yg lebih baru, maka Asrock B550M Pro4 mendukung memory high-end dengan kecepatan hingga DDR4 4733+.
Jadi pengguna memory DDR4 4000/4400/4600/4800 bisa memilih motherboard berchipset B550 ini.
Tapi perlu diingat juga, harga memory DDR4 4000 biasanya sudah 2X lebih mahal ketimbang memory DDR4 3000/3200 yg populer dan umum di pasaran.

Selain itu chipset B550 mendukung fitur AMD Smart Memory Access (SAM) yg dapat mendongkrak kinerja game 5%-10% bila menggunakan VGA card Radeon seri RX6000.
Fitur SAM memungkinkan prosesor untuk mengakses memory yg ada pada videocard secara optimal. Namun fitur ini hanya bisa bekerja jika menggunakan Ryzen seri 5000 dengan Radeon seri RX 6000 (tidak berfungsi jika menggunakan VGA card Nvidia)

 

Asrock X370M (kompatibel untuk Ryzen 7 5700X)

Harga baru: Rp. 775  ribu

Bila maksud hati tetap ngotot ingin memiliki PC dengan prosesor Ryzen 7 5700X namun apa daya dompet tak sampai, maka solusinya hanyalah bersimpuh & bersujud ke motherboard ber-chipset jaman purba dengan harga kere hore, yaitu motherboard yg menggunakan chipset X370.

Sekalipun sekarang motherboard X370 dijual murah meriah, namun dulunya X370 adalah chipset kelas high-end yg mahal harganya. Karena itulah motherboard Asrock X370M ini bisa dibilang sebagai “Macan Tua” yg turun Kasta, yg belum ompong tapi masih punya taring untuk meng-overclock Ryzen 7 5700X sesuai batasan kemampuan chipset maupun prosesornya sendiri.
Paling tidak penggunanya masih harus bersyukur bahwa dengan harga kere hore masih diberi motherboard era tahun 2017 yg mampu meng overclock prosesor Ryzen 7 5700X yg muncul 5 tahun setelahnya yaitu di tahun 2022.
Realita fenomenal semacam ini adalah sesuatu yg mustahil di alam Intel yg selalu mewajibkan penggunanya untuk melakukan ritual ganti motherboard setiap kali ganti prosesor.

Dengan harga yg cuma berkisar Rp.700 ribuan saja, motherboard ini memberikan dukungan untuk prosesor Ryzen mulai dari generasi 1000,2000,3000,4000 hingga 5000. Penggunaan solid capacitor, 6-phase power, dan kemampuan mensupport CPU hingga 105 watt, menjadikan motherboard murah meriah ini sangat mampu meladeni Ryzen 7 5700X yg notabene cuma 65Watt saja.

Dengan harga yg sangat murah dan kompatibilitas prosesor yg sangat luas menjadikan Asr0ck X370M layak mendapat “Kere Hore Award”. Cocok bagi yg ngotot memaksakan diri membeli Ryzen 7 5700X namun anggaran nya pas-pasan.

 

Motherboard untuk Core i5 12400F

PERHATIAN: Harga motherboard untuk prosesor Intel generasi 12 lebih mahal Rp.1 juta hingga Rp.1,7 juta (2X lebih mahal) ketimbang motherboard untuk prosesor AMD generasi baru (seri 5000/Vermeer)

Problem utama prosesor intel generasi 12 adalah harga motherboardnya yg sangat mahal. Lebih mahal ketimbang motherboard untuk intel generasi 10, dan sangat-sangat jauh lebih mahal ketimbang harga motherboard untuk prosesor AMD Ryzen keluaran tahun 2022 seperti Ryzen 7 5700X.

Bila pengguna AMD dapat merasakan kemewahan motherboard eksotis seperti Asrock “Steel Legend” dengan dana cuma Rp. 1,3 juta saja, atau bahkan menggunakan motherboard X370 seharga Rp.700 ribuan, maka pengguna Intel hanya bisa bermimpi untuk bisa menikmati harga murah. Karena harga Asrock “Steel Legend” untuk prosesor intel generasi 12 dibandrol dengan harga Rp. 2,5 juta, alias lebih mahal Rp.1 juta lebih dibanding “Steel Legend” untuk Ryzen 7 5700X !!!

Selisih harga yg besar ini berlaku untuk semua merk motherboard untuk prosesor intel gen 12, bukan cuma merk Asrock saja. Karena yg bikin mahal adalah harga chipset motherboard intelnya (chipset B660 & H610). Produsen motherboard kulakan chipset dari intel mengikuti harga mencekik leher yg memang sudah ditentukan oleh intel. Jadi mahalnya harga motherboard untuk intel gen 12 bukanlah karena keserakahan produsen motherboard

Motherboard Asrock seri “Steel legend’ adalah motherboad kelas menengah-atas yg paling laris dan populer untuk Intel & AMD. Kesuksesan itu berkat design yg keren dan adanya onboard RGB LED di sekujur tubuh motherboard itu, yg tentunya disukai generasi milenial & penganut ideologi “no RGB, no Party”.

Asrock di Indonesia didistribusikan oleh distributor resmi ternama yaitu eMD (E-Media Device) dengan garansi yg cukup lama yaitu 3 tahun. Soal garansi tentu tak perlu khawatir karena eMD adalah distributor resmi yg kredible dan pemain lama.

Asrock B660M “Steel Legend” (kompatibel untuk Core i5 12400F)

Harga baru: Rp. 2,5 juta

Sama seperti Asrock seri Steel Legend untuk AMD, motherboard untuk intel generasi 12 ini juga menyuguhkan tampilan keren dan RGB LED onboard. Namun berbeda dengan versi AMD yg harganya cuma Rp. 1,3 juta, pengguna prosesor intel generasi 12 harus rela membayar Rp.2,5 juta (2x lebih mahal) bila ingin menikmati kemewahan seri Steel Legend yg menggunakan chipset intel B660.
Padahal tampilan Steel Legend untuk Intel ini masih kalah cantik dibanding yg versi untuk AMD, karena RGB pada B660M Steel Legend hanya berupa LED bar di bagian pinggir motherboard, sedangkan pada  B450M Steel Legend, LED nya ada di bagian I/O panel Shroud dan juga Chipset, sehingga terlihat lebih keren & elegan ketimbang versi intel-nya.

Selain itu, karena Intel pada dasarnya memang pelit memberikan fitur overclock, maka pada motherboard chipset B660 tetap juga tidak akan bisa mengoverclock prosesor Intel yg multiplier-unlocked sekalipun (seri K). Karena untuk overclocking via multiplier, intel mewajibkan penggunaan motherboard seri premium dengan chipset seri Z, yg harganya testu semakin super fantastis (bisa kisaran Rp.4 juta lebih).
Berbeda dengan di AMD, dimana motherboard chipset seri B450/B550 (juga chipset lawas X370/B350) sudah memberikan fitur overclock untuk merubah multiplier pada semua proser Ryzen yg dari sananya memang unlock semua. Motherboard kelas cacing seharga Rp.700 ribuan sudah bisa meng-overclock Ryzen via multiplier.

Oleh karena itu alasan utama membeli motherboard chipset intel B660 hanyalah jika anda menggunakan memory DDR4 3200 ketas, mengingat chipset H610 maximum hanya mendukung memory DDR4 3200

Pengguna memory DDR4 4000/4400/4600/4800 wajib hukumnya memilih motherboard berchipset B660 ini, dan bukan motherboard berchipset H610.
Tapi perlu diingat juga, harga memory DDR4 4000 biasanya sudah 2X lebih mahal ketimbang memory DDR4 3000/3200 yg populer dan umum di pasaran.

Asrock H610M-HDV/M2 R2.0 (kompatibel untuk Core i5 12400F)

Harga baru: Rp. 1,35 juta

Dari sosok penampakannya jelas menunjukkan bahwa ini adalah motherboard kelas cacing, alias motherboard “Kere Hore” yg umumnya dibandrol Rp.700 ribuan karena minim fitur dan terlihat polos, miskin & lugu.

Namun karena motherboard untuk prosesor intel generasi 12 (Alderlake) harganya memang 2X lebih mahal, maka motherboard kelas cacing berchipset H610 ini harganya dibandrol mahal, bahkan setara motherboard kelas mewah untuk prosesor lain.
Hal ini berlaku untuk semua merk motherboard untuk prosesor Intel gen 12, karena yg membandrol 2X lebih mahal adalah intel-nya selaku produsen chipset H610.

Jadi bila dengan anggaran kisaran Rp. 1,5 juta biasanya konsumen sudah bisa membeli motherboard kasta Raja yg eksotis & bertatahkan RGB (misal Asrock B450M Steel Legend), maka bila menggunakan prosesor intel gen 12, konsumen harus rela & berlapang dada untuk memperoleh motherboard kasta rakyat jelata yg tampilannya terlihat miskin & kurang gizi.

Asrock H610M-HDV/M2 Revisi 2.0 telah menggunakan 7-phase power design, berbeda dengan revisi pertama nya yg hanya menggunakan 6-phase power design. Jangan sampai terjebak salah beli yg revisi pertama, karena harganya hampir sama.

 

 

Platform Pengujian

Berikut ini beberapa tampilan PC Reviewland yang dipakai untuk melakukan pengujian prosesor.
Untuk mempercepat & mempermudah proses pengujian berbagai macam prosesor, saya menggunakan beberapa PC yang memang saya pakai sehari-hari

Berikut ini beberapa merk hardware yang digunakan pada PC Reviewland.

Prosesor: Intel & AMD
Memory: Team RGB & Geil RGB
PSU: FSP dan Corsair
Motherboard: Asrock (Intel & AMD), Gigabyte (AMD), MSI (Intel)
Videocard: MSI, Gigabyte, Palit, Inno3D, Colorful iGame (Geforce) MSI (Radeon)

 

Pengujian benchmark

 

Cinebench R23

Cinebench R23 yg merupakan penerus Cinebench R20, merupakan benchmark yang paling populer dan menjadi kiblat pengujian bagi umat di seluruh dunia yang ingin mengetahui kinerja prosesornya.
Hasil benchmark Cinebench R23 mencerminkan kinerja prosesor pada software Maxon Cinema 4 Suite yg merupakan aplikasi 3D content creation & rendering paling populer di Industri Profesional dan juga industri film Holywood.

Cinebench/Cinema 4D adalah software yg dibikin oleh Maxon, sebuah produsen software asal Jerman
Beberapa perusahaan besar yg menggunakan software Cinema 4D adalah: Walt Disney, Fox Entertainment, NBC media company, Samsung, Apple, dll.

Multi core
Ryzen 7 5700X = 13801

Core i5 12400F = 12452

Core i5 10700F = 12246

Single core

Core i5 12400F =1621

Ryzen 7 5700X = 1531

Core i7 10700F =1253

 

Ryzen 7 5700X melibas & menindas Core i5 12400F tanpa ampun di Cinebench 23. Ini tentu karena aplikasi 3D rendering sangat mengandalkan pada jumlah core yg lebih banyak.
Walaupun pada pengujian single core terlihat bahwa Core i5 12400F mampu unggul tipis, namun dalam prakteknya mustahil pengguna menggunakan cuma single core ketika melakukan pekerjaan rendering.
Namun paling tidak ini menunjukkan bahwa IPC (instruction per clock) pada prosesor intel gen 12 ini sedikit lebih tinggi dibanding AMD seri 5000 pada Cinebench 23. Tapi keunggulan tipis intel pada kinerja single-core ini juga tidak akan tercermin dalam realita yg sesungguhnya, karena dalam prakteknya orang akan merender menggunakan multi-core agar pekerjaan cepat selesai.

Sebagai tambahan perbandingan, pada pengujian Cinebench23 ini juga disertakan prosesor intel 8 core (Core i7 10700F) yg harganya sangat mahal, tapi ternyata prosesor ini malah kalah & dipermalukan hingga jadi bulan-bulanan oleh Ryzen 7 5700X dan Core i5 12400F.
Mahalnya harga prosesor intel 8 core (Core i7) membuatnya malah jadi bahan tertawaan ketika diikutsertakan dalam duel prosesor kelas Rp.3 juta.
Core i7 yang gen 10 saja sudah Rp.4,5 juta harganya, apalagi yg gen 11 dan 12 tentu jauh lebih mahal lagi dan semakin tidak relevan untuk dibandingkan dalam liga prosesor Rp.3 juta yg jadi esensi pembahasan di artikel ini.

Cinebench R20

Sekalipun sudah dirilis versi R23 yang lebih baru, namun hasil benchmark Cinebech R20 ini bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk membandingkan kinerja prosesor generasi terbaru dengan generasi lama yg dulu ditestnya masih menggunakan Cinebench R20.

Hasil benchmark Cinebench R20 mencerminkan kinerja prosesor pada software Maxon Cinema 4D Studio R20 yang merupakan software 3D rendering paling populer di Industri Profesional dan industri industri film Holywood.
Berbagai film bioskop ternama dibuat menggunakan software Maxon Cinema 4D Studio, antara lain: Spiderman 3, Iron Man, Furious 7, Pacific Rim, War of the Worlds, Inception, Van Helsing, Doom, Beowulf, Golden Compass, Polar Express, dll.

Multi core
Ryzen 7 5700X = 5329

Core i5 12400F = 4782

Single core

Core i5 12400F = 662

Ryzen 7 5700X =586

 

Hasil benchmark Cinebench 20 menunjukkan kemenangan yg sama seperti pada Cinebench 23. Ryzen 7 5700X terbukti dengan mudah mempermalukan Core i5 12400F berkat jumlah core yg lebih banyak

 

Cinebench R15

Cinebench R15 merupakan benchmark prosesor yang sudah populer sejak dulu dan menjadi alat ukur bagi yg ingin mengetahui kinerja prosesornya.
Sekalipun sudah dirilis versi R20 dan R23  yang lebih baru, namun versi R15 lebih disukai banyak orang karena membutuhkan waktu benchmark yang lebih cepat dan tidak selama Cinebench R20.

Hasil benchmark Cinebench R15 ini juga bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk membandingkan kinerja prosesor generasi terbaru dengan generasi lama yg dulu ditestnya masih menggunakan Cinebench R15

Multi core

Ryzen 7 5700X = 2306

Core i5 12400F = 1783

Single core

Ryzen 7 5700X = 252

Core i5 12400F = 246

 

Pada Cinebench 15 terlihat bahwa Ryzen 7 5700X unggul telak baik di pengujian multi-core maupun single-core.
Berbeda dengan hasil pengujian single-core pada Cinebench 20 & 23 yg menunjukkan kemenangan tipis Core i5 12400F pada kinerja single-core

Hal ini disebabkan karena Cinebench 15 masih menggunakan engine lawas yg belum ada optimalisasi untuk prosesor intel generasi baru.
Dari sini jelas terlihat bahwa secara “raw power”, kinerja single core (IPC) Ryzen 7 5700X sebetulnya masih lebih tinggi ketimbang prosesor intel generasi 12 (Core i5 12400F) yg hanya bisa perkasa pada software-software baru saja yg sudah dioptimalkan untuk intel gen 12.

Jadi kemenangan tipis Core i5 12400F pada pengujian single core di Cinebench 20 & 23 adalah akibat terbantu adanya optimalisasi untuk prosesor intel gen 12 pada sofware-software keluaran baru. Begitu software versi lama yg dipakai, maka runtuhlah keperkasaan IPC (instruction per clock) single-core intel, bahkan pada kinerja single-core sekalipun tetap tidak ada harapan bagi Core i5 12400F untuk bisa menang.

Atau dengan kata lain, bila polosan tanpa adanya bantuan optimalisasi (misal pakai software versi lama), maka kinerja single-core prosesor intel generasi 12 tersebut bahkan juga masih kalah oleh Vermeer (Ryzen 7 5700X)

 

 

V-Ray benchmark

V-Ray adalah aplikasi 3D rendering ternama yg sangat populer karena  kompatibel sebagai plugin 3D render untuk software-software ternama seperti Autodesk 3ds Max, Maya, Cinema 4D, Google SketchUp, Unreal Engine dan Blender.
Oleh karena itu hasil benchmark V-Ray ini sangat penting dan wajib dijadikan acuan bagi 3D designer/content creator yg mencari kinerja prosesor terbaik pada software yg disebutkan diatas.

Berbeda dengan Cinebench yg hanya mencerminkan kinerja pada 1 aplikasi 3D saja (Maxon Cinema 4D), V-Ray benchmark mencerminkan kinerja prosesor pada lebih banyak sofware-software 3D populer dan ternama, bahkan plug in V-Ray juga tersedia untuk Cinema 4D juga.

Multi core

Ryzen 7 5700X = 9845

Core i5 12400F = 8638

 

Mustahil ada peluang bagi Core i5 12400F untuk bisa mengalahkan Ryzen 7 5700X apalagi bila terkait aplikasi 3D rendering yg tentu saja sangat mengandalkan jumlah core prosesor.
V-Ray adalah software rendering yg sangat optimal dalam menggunakan multi-core dan hanya akan membuat Core i5 12400F semakin terpuruk ketika dihajar & dipermalukan oleh Ryzen 7 5700X yg harganya setara.

V-Ray tidak menyediakan pengujian single core karena memang aslinya tidak berguna & tidak akan mencerminkan realita yg sesungguhnya. Karena mustahil dalam realita ada orang yg merender secara single-core. Kalaupun bisa, bakal memakan waktu 6X-8X lebih lama ketimbang multi-core rendering.

 

Geekbench 5 (64bit)

Geekbench merupakan aplikasi lintas platform yang sangat populer dan menjadi barometer untuk mengukur kinerja hardware dengan berbqgai macam jenis aplikasi yang umum.
Software buatan Primate Lab asal Canada ini memisahkan antara test single-core dan multi-core, sehingga kita bisa tahu kinerja prosesor pada kondisi single-tasking maupun multi-tasking dengan menggunakan berbagai aplikasi & software yang disimulasikan oleh benchmark ini.

Multi core

Ryzen 7 5700X = 10178

Core i5 12400F = 9449

Core i7 10700F = 8940

Single core

Core i5 12400F = 1645

Ryzen 7 5700X = 1633

Core i7 10700F = 1265

 

Hasil Geeekbench 5 yg merupakan representasi kinerja prosesor pada berbagai aplikasi content creation menunjukkan keunggulan Ryzen 7 5700X pada pengujian multi-core. Core i5 12400F hanya mennag tipis pada pengujian single core yg sifatnya teoritis belaka, karena dalam realitaya ketika kita bekerja dengan aplikasi content creation pasti membuka beberapa aplikasi dan berurusan dengan proses encoding/decoding dimana kinerja multi-core lebih berperan.

Sebagai tambahan perbandingan, pada pengujian Geekbench 5 ini juga disertakan prosesor intel 8 core (Core i7 10700F) yg harganya sangat mahal, tapi ternyata prosesor ini malah kalah & dipermalukan hingga jadi bulan-bulanan oleh Ryzen 7 5700X dan Core i5 12400F.
Mahalnya harga prosesor intel 8 core (Core i7) membuatnya malah jadi bahan tertawaan ketika diikutsertakan dalam duel prosesor kelas Rp.3 juta.
Core i7 yang gen 10 saja sudah Rp.4,5 juta harganya, apalagi yg gen 11 dan 12 tentu jauh lebih mahal lagi dan semakin tidak relevan untuk dibandingkan dalam liga prosesor Rp.3 juta yg jadi esensi pembahasan di artikel ini.

 

Kinerja Gaming (dengan VGA Geforce RTX 3070)

Geforce RTX 3070 adalah VGA card yg dirancang untuk meladeni gaming di resolusi 1440p. Oleh karena itu pada resulusi 1080p, RTX 3070 sudah sangat powerful dan tidak akan jadi bottleneck yg menghambat kinerja prosesor.
Hal ini terlihat dari adanya peningkatan framerate rata-rata yg berkisar 5fps-10fps di semua game ketika menggunakan prosesor yg lebih bertenaga.

Mayoritas gamer masih menggunakan monitor 1080p, dan selalu ter-obsesi dengan settingan rata kanan (Ultra). Jadi perbandingan kinerja dengan settingan “1080p Ultra” sangat merefleksikan apa yg bakal dirasakan mayoritas gamer pada umumnya.

Forza Horizon 5 (1080p Ultra)

Ryzen 7 5700X = 147 fps

Core i5 12400F = 138 fps

Horizon Zero Dawn

Ryzen 7 5700X = 103 fps

Core i5 12400F = 94 fps

Red Dead Redemption 2 (1080p Ultra)

Ryzen 7 5700X = 102 fps

Core i5 12400F = 92 fps

Cyberpunk 2077 (1080p Ultra)

Ryzen 7 5700X = 95 fps

Core i5 12400F = 89 fps

Assassins Creed Valhalla

Ryzen 7 5700X = 75 fps

Core i5 12400F = 69 fps

 

Hasil pengujian menunjukkan bawa Ryzen 7 5700X mampu menghancurkan Core i5 12400F di semua game. Selain karena jumlah core lebih banyak, kemenangan Ryzen 7 5700X ini juga berkat kinerja single core Ryzen 7 seri 5000 (Vermeer) yg jauh lebih baik ketimbang Ryzen generasi sebelumnya.
Faktor lain yg berpengaruh adalah jumlah L3 cache yg sangat gemuk (32MB) pada Ryzen 7 5700X terbukti memang mampu mendongkrak kinerja di game.

 

Mesin yg lebih besar terbukti membawa kemenangan dalam duel V6 versus V8

Sama seperti  duel antara Nissan 370Z (mesin V6 4000cc) versus Dodge Challenger RT (mesin V8 5700cc) yang akhirnya dimenangkan oleh Muscle Car V8 bermesin raksasa, begitupula Ryzen 7 5700X dengan 8 corenya mampu melibas & menindas tanpa ampun prosesor 6 core andalan intel di harga Rp.3 juta, yaitu Core i5 12400F, di semua aplikasi baik content creation, rendering maupun gaming.

Dengan harga kedua prosesor yg sama-sama Rp.3 juta, konsumen jelas tidak memiliki alasan yg masuk akal untuk membeli Core i5 12400F.
Apalagi, bila berbicara soal faktor gengsi, memiliki prosesor dengan jumlah core lebih banyak (8 core) tentu memberikan suatu kewibawaan & kebanggaan tersendiri, dan tanpa harus membayar lebih, karena harga Ryzen 7 5700X sama dengan Core i5 12400F yg mengalami “defisit jumlah core” alias cuma 6 core saja.

Konsumsi daya Ryzen 7 5700X yg jumlah corenya lebih banyak itu ternyata juga sama dengan Core i5 12400F yg jumlah corenya lebih sedikit, yaitu sama-sama 65watt. Ini tentu berkat keajaiban teknologi 7nm pada prosesor AMD yg tentunya lebih baik dibanding teknologi 10nm yg digunakan pada prosesor intel generasi 12

Satu-satunya alasan bagi konsumen untuk tetap ngotot membeli intel Core i5 12400F hanyalah fanatisme gila ala fanboys Intel yg tentunya diluar nalar akal sehat dan tidak ilmiah.
Salah satu indikasi gangguan jiwa adalah tidak mau melihat fakta & realita, dan sesungguhnya fakta & realita telah menunjukkan bahwa prosesor 6 core intel telah ditumbangkan oleh prosesor 8 core AMD yg harganya sama.

Selain itu perlu juga diingat bahwa total overall harga PC rakitan yg menggunakan Core i5 12400F bisa lebih mahal Rp.1 juta bahkan lebih, akibat mahalnya harga motherboard untuk prosesor intel gen 12, jika dibandingkan harga motherboard untuk Ryzen 7 5700X.

Sedangkan Ryzen 7 5700X dapat berjalan di motherboard “Kere Hore” ataupun motherboard lawas yg sudah dimiliki sebelumnya, sehingga tak ada alasan yg dapat membuat pengguna AMD menunda keputusannya untuk membeli Ryzen 7 5700X, bila anggaran dana Rp.3 juta itu sudah ada di kantong

 

Mengapa prosesor AMD dengan core lebih banyak & cache 2X lebih besar harganya bisa setara prosesor intel dengan core dan cache lebih sedikit?

Hal itu disebabkan karena Intel selama ini tetap ngotot membuat chip di pabrik miliknya sendiri, yg justru membuat biaya produksi chip jadi lebih mahal, dan secara teknologi malah tertinggal (cuma 10nm). Sedangkan AMD selama ini membuat chipnya di TSMC (Taiwan) dan Samsung (Korea) yg keduanya merupakan produsen untuk sebagian besar chip di seluruh dunia (termasuk Nvidia & Apple juga memproduksi chipnya di TSMC). Sehingga biaya produksi chip di pabrik TSMC maupun Samsung secara Skala Ekonomi (economies of scale) jauh lebih murah ketimbang pabrik intel yg cuma memproduksi chip eksklusif untuk dirinya sendiri saja.
TSMC menjadi pabrikan andalan AMD selama ini, namun AMD juga mulai melirik Samsung, terutama setelah dibangunnya mega factory Samsung di Austin, Texas yg merupakan kota kelahiran AMD.

AMD telah mengambil langkah cerdas & efisien dengan menjual pabriknya sendiri (Global Foundries) di tahun 2012, dan akhirnya meng-outsource produksi prosesornya ke TSMC yg merupakan raja-nya chip di dunia ini yg memproduksi segala macam chip termasuk prosesor untuk smartphone.
Baik TSMC maupun Samsung sudah sejak lama menggunakan teknologi manufaktur 7nm yg jelas lebih canggih ketimbang pabrik Intel yg baru-baru ini saja cuma mampu beralih ke 10nm setelah sekian lama berkutat di 14nm.
Jadi tanpa harus memutar otak untuk berinvestasi di teknonologi 7nm, AMD langsung bisa berkoar-koar membanggakan teknologi 7nm pada prosesornya. Karena  teknologi 7nm sudah lama dimiliki oleh TSMC dan Samsung untuk produksi chip smartphone.
Awal kejayaan AMD dimulai sejak mereka mencampakkan pabrik miliknya sendiri (Global Foundries) dan meng-outsource produksinya ke TSMC, dan era kejayaan itu dimulai sejak kelahiran Ryzen.

AMD sebetulnya meniru jejak produsen besar asal Amerika yaitu Qualcomm yg sejak dulu tidak pernah punya pabrik sendiri dan selalu meng-outsource produksinya ke TSMC, dan terbukti Qualcomm berhasil menjadi produsen chip smartphone terbesar nomer 1 di dunia berkat strategi outsourcing itu.

Karena sesungguhnya barangsiapa bersujud dan bersimpuh menyembah TSMC ataupun Samsung, maka hidupnya akan dimuliakan, seperti Qualcomm, Nvidia, Apple dan banyak pemain besar lainnya yg selama ini tidak memproduksi chip di pabriknya sendiri karena memang tidak punya pabrik.
Seandainya Intel mau & rela untuk menutup pabrik miliknya sendiri, dan bersedia untuk bersujud menyembah TSMC atau Samsung, maka biaya produksi prosesor Intel tentu akan bisa jauh lebih rendah, dan konsumen bisa menikmati harga yg lebih murah.

Namun Intel selama ini tetap ngotot mengikuti ego-nya dengan tidak mau menutup pabrik kebanggaannya itu,  sehingga sikap Intel ini harus dibayar oleh konsumen dengan harga prosesor intel yg lebih mahal, karena diproduksi “eksklusif” di pabrik miliknya sendiri, yg kadang malah berakhir dengan blunder seperti pada kasus Rocket Lake (generasi 11)

Hal ini bisa di-ibaratkan pedagang kelontong kelas warung yg tetap ngotot mempertahankan warung kebanggaan miliknya, padahal mustahil harga & biaya produksinya bisa lebih murah ketimbang mega-retailer skala nasional ala Indomaret & Alfamart yg kulakan dalam skala masif dan melayani ratusan jutaan konsumen sekaligus, bukan cuma melayani pelanggan “eksklusif” yaitu tetangga di lingkungan RT nya saja.
Seharusnya pemilik warung itu akan lebih dimuliakan hidupnya & terangkat derajatnya bila bersedia menutup warung reyotnya yg mulai bocor di sana sini, dan bersedia bersujud & menyembah Indomaret & Alfamart dengan menjadi karyawan atau rekanan minimart tersebut, minimal jadi tukang parkirnya.

Meski demikian, semangat juang Intel untuk mempertahankan pabrik miliknya sendiri juga patut diacungi jempol. Setelah sekian lama pabriknya tersengal-sengal akibat idealisme & fokus memproduksi chip untuk dirinya sendiri, akhirnya sejak Juli 2022 kemarin, pabrik intel mulai ikut-ikutan memproduksi chip buatan perusahaan lain, yaitu chip smartphone buatan Mediatek asal Taiwan.
Selama ini Mediatek (dan juga Qualcomm yg berasal dari Amerika) memproduksi chipnya di TSMC (Taiwan).
Oleh karena itu, mulai akhir tahun 2022 ini, chip Mediatek akan mulai diproduksi di pabrik Intel, dan bukan di pabrikan negaranya sendiri (TSMC Taiwan)

Intel di tahun 2013 pernah mencoba merilis chip smartphone buatan Intel sendiri, mereka investasi besar-besaran membangun R&D smartphone Intel di negara Israel. Namun produknya gagal di pasaran (termasuk merk smartphone Lenovo yg menggunakannya ikut terseret jadi produk cacat) akibat didera problem panas.

Oleh karena itu Intel kali ini memutuskan untuk menjadi “tukang jahit” saja untuk chipmaker asal Taiwan (Mediatek) yg memang terbukti laris di pasaran namun tidak punya pabrik sendiri (seperti halnya Qualcomm).
Jadi yg merancang chip smarthone tentu saja Mediatek bukan Intel, karena Intel terbukti tidak becus mendesign chip smartphone maupun GPU. Intel keahliannya mendesign chip CPU saja, bukan smartphone ataupun videocard.
Sedangkan, AMD justru lebih multi-talenta ketimbang Intel, karena terbukti piawai mendesign chip CPU (Ryzen) maupun GPU (Radeon), sekalipun AMD tidak memiliki pabrik sendiri sama sekali. Bahkan Playstation 4/5 dan Xbox menggunakan chip AMD juga.

Namun walaupun pabrik milik Intel secara teknologi manufaktur masih tertinggal & berkutat di fabrikasi 10nm (ketinggalan oleh  pabrik TSMC dan Samsung yg sudah 5nm), tapi Intel sebagai “designer CPU” tetap layak mendapat pujian karena mampu membuktikan kepiawaiannya dalam merancang arsitektur baru “Hybrid core” (arsitektur Big-Little) pada prosesor gen 13 (Raptor Lake) yg sayangnya harganya mahal.

Prosesor Intel gen 13 termurah harganya diatas Rp.5 juta, dan mahalnya harga ini karena intel masih menggunakan teknologi fabrikasi lama (10nm) akibat ngotot memproduksi di pabrik milik Intel sendiri yg memang hanya mampu memproduksi chip 10nm.
Padahal pabrik milik TSMC dan Samsung sudah melompat jauh ke teknologi fabrikasi 5nm, jadi siapapun yg membikin prosesor di kedua pabrik asal Taiwan & Korea itu akan langsung bisa berkoar-koar membanggakan teknologi 5nm, salah satunya AMD.

Jadi andaikan tukang becak membikin prosesornya di pabrik TSMC atau Samsung, maka dia otomatis langsung bisa berkoar-koar membanggakan prosesornya yg sudah diproduksi dengan teknologi 5nm.

Namun Intel sebagai “designer CPU” tetaplah patut diacungi jempol dengan berbagai inovasi barunya (misal arsitektur Hybrid), walaupun Intel sebagai “produsen/pabrikan CPU” tidaklah hebat, dan kalah oleh TSMC dan Samsung.

AMD saat ini bukanlah “produsen CPU”, mereka adalah “designer CPU” (dan juga designer GPU) karena AMD membuat prosesornya di TSMC. Begitupula Nvidia juga “designer GPU” bukan “produsen GPU”, karena yg memproduksi semua GPU Nvidia selama ini adalah TSMC. Sama halnya Qualcomm & Mediatek, mereka adalah designer CPU Smartphone.
Jadi yg layak & pantas disebut produsen CPU & GPU sesungguhnya adalah TSMC dan Samsung (dan juga Intel karena ngotot punya pabrik sendiri, walaupun tertinggal teknologinya)

TSMC dan Samsung adalah produsen alias “tukang jahit” bagi hampir semua designer prosesor di seluruh dunia. Hanya Intel yg tetap ngotot menjahit bajunya sendiri walaupun itu mengakibatkan biaya produksi intel justru jadi mahal karena tidak efisien secara Economies of Scale dan tertinggal secara teknologi manufaktur (masih 10nm).

Di dunia fashion pun tidak ada designer ternama yg menjahit bajunya sendiri, mereka umumnya menyerahkan ke tukang jahit. Apakah designer kondang Versace menjahit sendiri semua baju rancangannya yg dia jual? Tentu saja tidak, kalaupun dia menjahit semua baju rancangannya sendiri tentu saja itu gila dan malah membuat harga bajunya menjadi jauh lebih mahal lagi.

Sama halnya di dunia konstruksi, adakah sarjana arsitek/designer yg merangkap jadi kuli bangunan? tentu saja tidak ada. Karena kalau sampai ada, maka itu adalah suatu kegilaan. Ongkos kerja kuli jadi mahal kalau kulinya seorang sarjana arsitek. Seorang designer/arsitek tidak harus & tidak wajib merangkap jadi kuli bangunan, dan malah konyol kalau seorang Arsitek merangkap jadi Kuli Bangunan.

Seorang “designer baju yg cerdas” adalah yg menyerahkan proses menjahit kepada “tukang jahit”, dan seorang “arsitek yg cerdas” adalah yg menyerahkan proses pembangunan kepada “kuli bangunan”.
Hanya Arsitek gila & idealis saja yg mencoba merangkap jadi Kuli Bangunan. Tapi untuk menjadi gila tentu sah-sah saja, walaupun ada konsekuensinya yaitu : ongkos kuli bangunan jadi mahal kalau kulinya seorang sarjana arsitek.

Tidak punya pabrik sendiri itu sesuai prinsip “Work Smart, not Work Hard”

Tidak semua pencapaian kesuksesan besar harus dikerjakan sendiri, karena itulah banyak produsen yg bisa sukses tanpa memiliki pabrik & tanpa membikin produknya sendiri.
Bahkan banyak orang yg menjadi miliuner kaya raya cuma hanya dengan leyeh-leyeh bersulang anggur di atas singgasana sambil menempel label merk di sebuah produk yg bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana cara membuatnya.

Salah satu orang terkaya dunia, Warren Buffet, bahkan kaya raya bukan dari kerja keras membangun bisnisnya sendiri, tapi dari membeli bisnis hasil kerja keras orang lain (yg dia beli dengan harga murah tentunya ketika perusahaan itu kolaps/bangkrut).
Realita tersebut sesuai dengan prinsip Ayat Emas: “Dia yg diberkati adalah dia yang menuai tanpa harus menabur, memetik dari tempat dia tidak menanam”

Karena itulah, bersusah-payah memiliki pabrik sendiri, bukanlah merupakan jaminan kesuksesan bisnis.
Bahkan orang yg cuma bermodal tanda tangan saja bisa lebih kaya raya ketimbang orang yg jungkir balik memutar otak & memeras keringat tiap hari di pabriknya. Jadi tidak ada yg bisa dibanggakan dengan memiliki pabrik sendiri.
Harap dicamkan: Orang justru bisa lebih bangga jika bisa sukses dengan modal cuma bolpen alias tanda tangan.

Jadi jangan pernah bangga dengan Kerja Keras, banggalah dengan Kesuksesan. Karena orang cerdas adalah orang yg bisa kaya & sukses cukup hanya dari tanda tangan saja (atau cuma tekan tombol saja: tombol peresmian, tombol seremonial, tombol eksekusi, dll), tapi bukan dari kerja keras.
Karena semua orang juga bisa kerja keras (tukang becak pun juga bisa kalau cuma kerja keras), tapi tidak semua orang tanda tangannya berharga, dan tidak semua orang boleh & berhak menekan tombol.

Maka dari itulah, jangan pernah membanggakan kerja keras, karena tukang becak pun bisa melakukan itu. Sesungguhnya mindset kerja keras adalah mindset tukang becak.
Ingatlah selalu “Work Smart, not Work Hard”, karena kerja keras adalah kutukan. Dan tidak ada satupun manusia di dunia ini yg berharap ingin dikutuk.
Konon kerja keras di dunia adalah kutukan yg diterima Adam & Hawa akibat perbuatan dosa di taman firdaus. Andaikan manusia tidak terkutuk akibat “dosa Adam & Hawa” semua manusia pastilah kerjanya hanya leyeh-leyeh di Surga berpesta pora tiap hari tanpa harus kerja.

Renungan Malam

Orang yg terlalu ter-obsesi untuk bekerja keras sama konyolnya dengan perusahaan yg ter-obsesi memiliki pabrik sendiri dan tiap hari bekerja keras menggiling & memproduksi tanpa henti. Itu adalah sesuatu yg tak pernah terlintas di benak perusahaan besar & sukses seperti Apple, Qualcomm, Nvidia, Mediatek, dan kini AMD juga, yang jelas-jelas bertindak cerdas dengan tidak memiliki pabrik sama sekali, karena tidak mau direpotkan dengan keribetan kerja keras untuk mengurus & mempertahankan suatu pabrik.

Karena sesungguhnya yg betul adalah “bekerja cerdas”, bukan “bekerja keras”.
Orang yg cerdas tidak akan pernah mau bekerja keras.
Tapi jangan samakan pula “orang cerdas” dengan “orang malas” yg juga sama-sama tidak mau kerja keras.
Harap diingat: Orang malas bukanlah orang cerdas, makanya mereka tidak akan sukses ketika tidak mau kerja keras. Sementara orang cerdas justru makin sukses jika mereka menghindari kerja keras.

Kerja keras adalah satu-satunya cara bagi orang yg tidak cerdas agar bisa sukses. Sedangkan orang cerdas bisa sukses tanpa harus kerja keras.

Banyak perusahaan kaya raya tanpa kerja keras, hanya dengan mengandalkan paten, lisensi, sertifikasi, royalti, monopoli, proteksi market, sistem patron/partnership, perijinan (alias tanda tangan). Itulah yg namanya kecerdasan.
Karena sesungguhnya dia yg paling cerdas adalah dia yg cuma pegang bolpen untuk tanda tangan atau cuma tekan tombol peresmian yg justru menjadi kunci penentu segalanya

Budz Kay

Reviewland.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Gadget & Teknologi

Review SmartphoneReview Camera & LensaReview Console & Portable Gaming         The Eye of RE         Review PC & LaptopReview PC & LaptopReview PC & Laptop

"In Hoc Signo Vides"
Behold The Eye of RE