REVIEWLAND.COM®

Duel 11 CPU Intel & AMD harga Rp.1 juta: Mencari juara prosesor sejuta umat di bursa prosesor baru & bekas di tahun 2021

Prosesor dengan kisaran harga Rp.1 juta sering dianggap sebagai prosesor sejuta umat, karena para pengguna umum, gamer pemula, PC gamer Kere Hore, pemilik warnet, dan perusahaan pengguna PC kantoran umumnya mencari prosesor dengan harga kisaran Rp. 1 juta ini. Sekalipun prestasi AMD dalam hal kinerja & teknologi kini mengalahkan Intel, namun kehadiran prosesor intel Core i3 generasi 10 yang murah meriah pada November 2020 telah mengobrak abrik segmen pasar prosesor harga kisaran Rp.1 juta sejak akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021 sekarang ini.
AMD juga memiliki strategi tersendiri untuk berusaha tetap eksis di segmen harga Rp.1 juta  dan tetap berusaha merebut gelar juara prosesor sejuta umat. Sementara itu di bursa prosesor bekas harga Rp. 1 juta juga banyak prosesor legendaris bergelar “macan tua” yang masih juga banyak peminatnya. Mampukah semua macan tua itu menghadapi keperkasaan prosesor intel terbaru dan strategi terbaru AMD di segmen harga Rp. 1 juta? Simak analisa lengkap dan perbandingan benchmarknya

 

Intel balas dendam nya di segmen harga Rp. 1 juta

Kekalahan Intel dalam perlombaan kecepatan dengan AMD telah membuat Intel merubah kebijakan harga prosesor mereka. Pada artikel sebelumnya yang berjudul Duel prosesor kelas Rp.2 juta, jelas terlihat betapa parahnya kekalahan intel oleh AMD dalam hal adu kecepatan. Secara teknologi pun, saat ini AMD juga telah merebut gelar prosesor terhebat dari tangan Intel.

Kekalahan Intel dalam hegemoni persaingan prosesor di dunia telah membuat intel kalap dan berusaha membalas dengan men-target segmen prosesor terbanyak yaitu segmen prosesor sejuta umat yang umumnya berada di kisaran Rp.1 juta. Intel seolah sudah ntidak peduli lagi siapa yang mapu menciptkan prosesor tyercepat di dunia, yang penting buat mereka adalah menghasilkan uang sebanyak mungkin dari penjualan prosesor, dan itu hanya dimungkinkan dari market segmen prosesor sejuta umat alias harga kisaran Rp. 1 juta.

Peluncuran Core i3 9100F di harga Rp. 1 juta pada tahun 2019 sebetulnya sudah mampu menunjukkan keunggulan kinerja prosesor intel yang menciptakan gangguan signifikan terhadap prosesor AMD di kelas harga Rp. 1 juta. Namun unjuk keperkasaan Intel di kelas prosesor sejuta umat baru benar-benar terjadi setelah  kemunculan Core i3 10100F pada  November 2020. Core i3 10100 tanpa F yang ada integrated grafisnya sudah duluan meluncur di awal 2020, namun kurang laku karena harganya mendekati kisaran Rp.2 juta dan kinerja integrated grafik intel juga tidak bisa dibanggakan, sehingga yang menjadiu “best seller” justru yang tidak ada integrated grafis nya dan lebih murah (core i3 10100F)

Strategi balas dendam intel ini membuat Core i3 10100F sukses besar dalam memenuhi impian pengguna PC yang budgetnya terbatas tapi ingin memiliki prosesor kinerja tinggi

Segmen prosesor sejuta umat adalah juga segmen PC Kantoran

Selain konsumen dengan budget terbatas, pengguna PC Kantoran juga merupakan bagian dari segmen prosesor sejuta umat. Bahkan perusahaan besar sekalipun akan membatasi anggaran prosesornya di kisaran harga Rp. 1juta, karena menurut mereka kinerjanya sudah cukup untuk menjalankan aplikasi kantoran.  Yang lebih diutamakan bagi PC kantoran adalah harga murah, kondisi baru (bukan bekas), hemat daya, ada iGPU (integrated grafik di dalam prosesor) supaya tidak perlu repot lagi beli VGA card.

Prosesor berdaya rendah menjadi preferensi segmen PC kantoran karena jumlah PC yang banyak di suatu perusahaan akan membuat selisih konsumsi daya setiap PC nya menjadi sangat berarti ketika ditotal semuanya.

Segmen PC kantoran inilah yang dilirik oleh AMD ketika merilis Athlon 3000G yang memiliki integrated grafis Vega 3, dan sangat irit daya (cuma 35Watt). Seolah tak peduli dengan Intel yang sukses pamer otot & kekuatan Core i3 9100F & Core i3 10100F di segmen prosesor sejuta umat, AMD tidak menggubris Intel dan men-target jenis konsumen yang berbeda, yaitu segmen PC kantoran di segmen harga itu.

Sekalipun Core i3 9100F & Core i3 10100F sukses besar, namun hanya perusahaan bodoh & tolol saja yang akan membeli kedua prosesor itu untuk fungsi PC kantoran, karena itu berarti mereka harus mengeluarkan budget extra untuk membeli VGA card yang pada akhirnya semua itu hanya akan terlalu “overkill” untuk digunakan menjalakan aplikasi kantoran. Karena sesungguhnya, semua perusahaan yang cerdas & bijak wajib hukumnya untuk bersimpuh & bersujud pada Athlon 3000G yang sangat hemat listrik itu.

Segmen prosesor sejuta umat adalah juga segmen PC Warnet Game Online

Sekalipun jumlah warnet game online tidak sebanyak dulu, namun keberadaannya masih cukup banyak terutama di dekat sekolah/kampus dan di perumahan daerah pinggiran. Kriteria Prosesor ideal bagi pemilik warnet adalah harga murah, integrated grafik nya harus lancar untuk game online populer (CS Go, Dota, PUBG, Fortnite, COD, Battlefield, dan game FPS online sejenisnya), dan harus hemat daya. Karena listrik boros akan mengurangi remah-remah keuntungan yang diperoleh dari warnet mereka. Segmen inilah yang dilirik oleh AMD ketika meluncurkan Ryzen dengan integrated grafis (Ryzen 2200G) dan Athlon 3000G yg juga memiliki integrated grafis dan sangat irit daya

Segmen prosesor sejuta umat adalah juga segmen PC Gaming “Kere Hore”

PC Gaming “Kere Hore” adalah spek PC game yang lebih ditujukan untuk gamer pemula, dimana si gamer masih belum mampu untuk membeli VGA card, namun hasratnya untuk memainkan game-game terbaru berkualitas AAA sudah tak bisa ditunda lagi.
Segmen inilah yg ditarget AMD ketika merilis Ryzen dengan integrated grafik (Ryzen 2200G), yang kinerja integrated grafiknya sangat hebat hingga setara VGA card sekelas Geforce GT 1030 2GB yang harganya Rp. 1 juta.
Kinerja iGPU Vega 8 yang ditanamkan pada Ryzen 2200G membuat Gamer “Kere Hore” & pemilik warnet tidak perlu lagi harus merogoh koceknya untuk membeli VGA card, karena hasrat bermain gamenya sudah bisa terpuaskan dengan kondisi dompet mereka yang kronis sekalipun.

Dan harap diingat juga, bahwa spek PC Gaming Kere Hore yang mengandalkan iGPU Ryzen 2200G tidak mewajibkan kita untuk membeli PSU berdaya tinggi (yang umumnya membutuhkan dana extra lagi sebesar  Rp.500ribu). Cukup mengandalkan PSU gratisan bawaan casing saja sudah cukup bagi PC Gamer Kere Hore, tidak perlu khawatir terjadi kembang api atau kisah ledakan tragis dari PSU abal-abal karena konsumsi dayanya juga sangat rendah bila PC tidak ada VGA card nya (mengandalkan iGPU)

Game-game kriteria AAA seperti Battlefield, Call of Duty, Resident Evil, FarCry, Tomb Raider, dll, umumnya membutuhkan VGA card seharga minimal kisaran Rp.1juta, namun kehadiran integrated grafis Vega 8 yang dihadirkan Ryzen 3 2200G di kelas prosesor harga Rp.1 juta telah membawa berkah & anugerah yg berlimpah kepada umat PC Gaming “Kere Hore” dan pemilik Warnet.

Intel sama sekali tidak memiliki prosesor yang layak & pantas bagi PC Gamer “Kere Hore”, karena kinerja integrated grafis Intel sangat memalukan dan bahkan layak dihinakan sepanjang masa. Oleh karena seluruh umat PC Gaming “Kere Hore” sudah pasti bersimpuh & bersujud menghadap pada kiblat AMD

Banyak “Macan Tua” di segmen prosesor harga Rp. 1 juta

Harus diakui bahwa segmen prosesor sejuta umat adalah segmen prosesor dimana konsumen memiliki budget yang terbatas untuk membeli prosesor. Orang-orang di segmen ini umumnya juga melirik prosesor-prosesor bekas bergelar “Macan Tua” alias prosesor legendaris di masanya. Prosesor legendaris yang sering dilirik adalah Ryzen generasi 1 dan Core i7 generasi 2 & 3.

Meski demikian banyak orang yang terlalu terbuai dengan nostalgia kejayaan masa lalu si Macan Tua dan lupa bahwa banyak prosesor baru yang jauh lebih cepat namun harganya sama. Oleh karena itu tidak semua prosesor Macan Tua layak dibeli, bahkan sesungguhnya kebanyakan macan tua (terutama Core i7 lawas) tidak lagi layak dibeli semenjak kemunculan Core i3 10100F. Hal ini sudah pernah dibahas di artikel sebelumnya, yaitu Duel Core i7 lawas vs Core i3 generasi baru.

Semenjak pensiunnya AMD dari segmen prosesor kinerja tinggi di harga Rp.1 juta, umat AMD hanya bisa berharap prosesor kinerja tinggi harga murmer pada ketersediaan pasokan Ryzen generasi 1 di bursa prosesor bekas. Macan Tua Ryzen 1 secara umum lebih layak dibeli ketimbang Macan Tua Core i5/i7 lawas.
Entah kapan prosesor kinerja tinggi AMD seri terbaru hadir kembali di harga kisaran Rp.1 juta, yang jelas saat ini hanya Ryzen “macan tua” generasi 1 solusinya.

 

Kedua prosesor AMD ini dianggap seperti Emas, hingga membuat pedagang saling tikam berebut harta karun AMD di segmen harga Rp. 1juta

Harus diakui bahwa segmen PC Kantoran, PC Gaming Kere Hore, dan PC Warnet, jika ditotal semuanya akan menjadi pangsa pasar yang sangat besar, dan ketiga segmen ini justru tidak cocok untuk dipenuhi oleh Core i3 10100F yang tidak ada integrated grafisnya dan juga tidak terlalu  hemat daya bagi konsumen PC Kantoran. Sementara itu, justru pada 3 segmen inilah AMD memiliki prosesor andalan, yaitu Athlon 3000G dan Ryzen 3 2200G.

Fakta & realita membuktikan bahwa hanya Athlon 3000G berdaya cuma 35watt itulah yang paling ideal untuk PC kantoran & Warnet, dan hanya Ryzen 3 2200G yang paling cocok buat PC Gaming Kere Hore & Warnet game online.
Hal inilah yang membuat baik Athlon 3000G maupun Ryzen 3 2200G menjadi rebutan para pedagang & tengkulak. Karena hanya dengan kedua prosesor ini mereka mampu menjual PC rakitan yang ideal buat pengguna kantoran, warnet, dan gamer kere hore. Tanpa memiliki stok prosesor ini, mereka tak akan mampu menjual PC rakitan dengan harga murah.

Contoh iklan PC Rakitan harga Rp.3 juta-an yang menggunakan Athlon 3000G. Pedagang komputer mengandalkan prosesor ini agar bisa jualan PC Kantoran yang irit listrik, murah dan cukup powerful untuk pekerjaan kantoran

Oleh karena itulah keberadaan Ryzen 3 2200G maupun Athlon 3000G menjadi langka di pasaran dan bahkan harganya meroket drastis naik hingga 2X lipat layaknya harga emas. Kenaikan harga itu selain disebabkan karena terbatasnya pasokan, juga disebabkan karena para tengkulak & pedagang cenderung tidak mau menjual prosesor ini secara eceran, melainkan mereka lebih memilih menjualnya dalam PC rakitan karena peluang keuntungan menjual PC rakitan utuh jauh lebih besar ketimbang menjual prosesor saja.

 

Mendadak jadi Sultan berkat kelangkaan prosesor

Sepanjang akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021 adalah masa-masa dimana tengkulak & pedagang saling tikam & saling bacok untuk memperebutkan Athlon 3000G dan Ryzen 3 2200G, karena barangsiapa yang memiliki prosesor ini, maka dialah yang mampu menjual PC dengan harga murah untuk sejuta umat.

Sementara itu konsumen yang hanya mencari prosesor saja di toko-toko, hanya bisa melongo & ternganga melihat kosongnya Ryzen 3 2200G dan Athlon 3000G dari pasaran. Kalaupun ada, harganya sudah melejit ngawur nyaris 2X lipat dari aslinya (seolah ditambahi nominal senilai profit penjualan PC rakitan). Karena pedagang lebih memilih menyimpan prosesor itu sebagai Amunisi & Peluru untuk menjual PC rakitan murmer, ketimbang menjual prosesor itu eceran.
Tanpa memiliki stok Ryzen 3 2200G & Athlon 3000G, ibaratnya toko-toko tidak memiliki Amunisi & Peluru untuk menjual PC rakitan yang murmer di segmen sejuta umat.

Yang jelas para pedagang & tengkulak yang memiliki stok prosesor Ryzen 3 2200G dan Athlon 3000G yang berlimpah, bakal mendadak jadi Sultan (terutama bila mereka kulakan nya dengan harga normal). Karena kelangkaan stok di pasar telah mendongkrak harganya meroket hingga nyaris 2X lipat

Contoh iklan PC Gaming Kere Hore harga Rp. 4,4 juta yang menggunakan Ryzen 3 2200G. Pedagang komputer mengandalkan prosesor ini agar bisa jualan PC Gaming dengan harga terjangkau


Berikut ini berbagai prosesor dengan harga kisaran Rp.1 juta (dibatasi max Rp.1,5 juta), yang masih umum dijual di tahun 2021 baik baru maupun bekas (diurutkan dari yang termurah hingga termahal)

 

Prosesor AMD kisaran harga Rp.1 juta

AMD Athlon 3000G (Baru) Rp. 750 ribu

Prosesor AMD generasi 3 yang berbasis arsitektur Zen+ ini diluncurkan pada kuartal ke4 tahun 2019 dengan codename “Picasso” (12 nm). Prosesor dengan integrated grafik Vega 3 ini memiliki 2 core + HT (4 thread) dengan clock standard 3,5 GHz  dan clock Turbo 3,5 GHz (2 core) / 3,5 GHz (1 core).

Athlon 3000G adalah Prosesor AMD dengan integrated grafik yang merupakan versi murah dari Ryzen seri 3000G (Picasso) yang dijual cukup mahal di kisaran Rp.2 juta .
Sekalipun Picasso adalah prosesor generasi ke-3 (seri 3000), tapi masih berbasis proses manufaktur 12 nm (bukan 7nm seperti umumnya seri 3000 lainnya). Meski demikian,  TDP nya cuma 35 watt saja, yang menjadikannya sangat cocok untuk PC kantoran dan HTPC. Temperatur nya jelas pasti sangat adem, yang memungkinkan penggunaan cooler ultra slim, dan pastinya cukup menarik bagi kalangan pemuja Mini PC.

Namun potensi segmen terbesar Athlon 3000G adalah segmen korporasi alias PC Kantoran. Sekalipun prosesor terkencang di harga kisaran Rp.1 juta adalah Core i3 10100F, namun bukan berarti bahwa prosesor itu cocok buat PC Kantoran. Karena tanpa adanya integrated grafik pada Core i3 10100F, akan membuat total harga PC yang menggunakan prosesor intel ini jadi jauh lebih mahal. Sementara aplikasi kantoran tidak terlalu membutuhkan kinerja grafis yang “waw”. Perusahaan justru akan lebih menghargai prosesor yang hemat listrik.

Oleh karena itulah, pada akhirnya banyak kantor/perusahaan yang menjatuhkan pilihan pada Athlon 3000G, karena prosesor ini memiliki segala impian manfaat & keunggulan yang didambakan sebuah perusahaan.
Athlon 3000G sangat hemat listrik (35 watt), harganya murah, dan memiliki integrated grafis Vega 3 yang sangat memadai buat kebutuhan kantor & multimedia secara umum.

Aplikasi kantoran sejak bertahun-tahun yang lalu sampai sekarang juga begitu-begitu saja (Word, Excel, Powerpoint, Browser, dll). Jadi pekerjaan kantoran adalah makanan ringan bagi Athlon 3000G yang mulai muncul di pasaran pada awal 2020.

Sekalipun Athlon 3000G cuma dibekali dual-core dengan Hyper Threading (4 thread), namun kinerja Athlon 3000G mampu mengalahkan/setara prosesor Quad-Core legendaris di masa lalu seperti Phenom X4 955 dan Core i5 2400, yang di masa jayanya bahkan dianggap terlalu hebat untuk PC kantoran.
Dalam benchmark Cinebench 15, Athlon 3000G bahkan hanya kalah sedikit dibanding prosesor 6-core AMD Phenom X6 1055T yang konsumsi dayanya 125 watt (4x lebih boros daya daripada Athlon 3000G). Bahkan pada pengujian single core, Athlon 3000G malah 1,5X lebih kencang daripada prosesor 6-core lawas AMD ini.

Bagi yang masih ingat dengan Intel Pentium G3260 (Haswell) yang selama tahun 2015-2018 merupakan prosesor dual-core intel yang sangat laris untuk PC kantoran bahkan juga Gamer, maka harap diingat & dicamkan baik-baik:
“Athlon 3000G ini kinerjanya 4X lebih kencang dari itu”.
Ini bisa dilihat pada hasil benchmark Cinebench 15

Dengan konsumsi listrik cuma 35watt saja, kinerja Athlon 3000G setara prosesor kinerja tinggi di masa lalu yg sangat boros listrik. Athlon 3000G bahkan 4X lebih kencang daripada Pentium G dual core. Jadi Athlon 3000G masih cukup powerful untuk aplikasi kantoran yang dari dulu memang begitu-begitu saja

Jadi jelas secara kinerja, mustahil Athlon 3000G akan mengecewakan segmen PC kantoran. Tak hanya itu, prosesor ini justru akan memuaskan perusahaan dari sisi pengiritan listrik dan harga yang lebih murah.

PC murah harga Rp. 3 juta-an tapi sangat hemat daya & cukup powerful untuk kantoran hanya dimungkinkan jika toko memiliki amunisi stok Athlon 3000G.

Pada akhir 2020 yang lalu, Athlon 3000G bahkan sampai menjadi rebutan para tengkulak & pedagang, karena prosesor ini dianggap sebagai amunisi & peluru yang penting untuk bisa merakit PC kantoran yang murah. Bahkan karena saking larisnya, harganya sampai meroket drastis hingga 2X lipat. Bahkan harga emas & tanah pun tidak pernah naik sedrastis & secepat itu.

AMD Ryzen 3 1200 (bekas) Rp. 1 juta

Prosesor AMD Ryzen generasi 1 yang berbasis arsitektur Zen ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2017 dengan codename “Summit Ridge” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,1 GHz  dan clock Turbo 3,1 GHz (4 core) / 3,4 GHz (1 core).
Summit Ridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm, sehingga clock GHz nya tidak setinggi Ryzen generasi baru.  TDP nya cuma 65 watt sehingga tidak boros daya dan adem. Temperatur standard Ryzen 3 1200 tergolong paling adem dibanding semua Ryzen, bahkan lebih adem ketimbang Ryzen generasi baru yang clock standardnya cenderung jauh lebih tinggi.

Ryzen 3 1200 juga merupakan prosesor legendaris yang terkenal karena kemampuan overclocknya yang cukup tinggi. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua Ryzen 3 1200 dengan mudah berjalan stabil di 3.8Ghz, yang berarti naik 700Mhz dari kecepatan aslinya yang 3.1 GHz. Meski demikian, kebanyakan Ryzen 3 1200 agak sulit stabil di 3,9GHz apalagi 4GHz. Kebanyakan stabilnya di 3.8GHz.

Ryzen 3 1200 juga tetap adem sekalipun dioverclock di 3.8GHz, bahkan dengan cooler standard (Wraith Stealth) bawaan nya pun suhunya masih cukup adem (max full load cuma kisaran 55C), sehingga dengan cooler yang bagus suhu maximum full load dalam kondisi overclock cuma kisaran 50C saja.
Sementara bila tidak dioverclock, alias standard, suhu maximum full load Ryzen 3 1200 cuma berkisar 40C dengan cooler standard. Suhu idlenya cuma 30C pada kondisi ruangan 27C. Sangat adem ayem !!

Oleh karena itu, sekalipun prosesor ini adalah Ryzen tertua yang paling pertama sekaligus paling murah, namun prestasi overclocknya cukup legendaris & suhunya sangat adem. Oleh karena keistimewaan itulah yang membuat harga bekasnya seringkali malah naik ketika ketersedian bekasnya mulai langka.

Namun dengan usianya yang sudah 4 tahun, kinerja standard Ryzen 3 1200 sebetulnya sudah kurang “greng” lagi untuk ukuran tahun 2021, karena dalam kondisi standard, prosesor ini bahkan masih kalah oleh Core i5 4670 yang harga bekasnya juga lebih murah.
Meski demikian karena Ryzen 3 1200 memiliki gelar sebagai “raja overclock” yang mampu dipecut hingga 3.8GHz, maka harga diri Ryzen 3 1200 ini masih bisa terselamatkan di tahun 2021, dan itu juga membuatnya lebih layak dibeli ketimbang Core i5 4670.

Oleh karena itu, bila memutuskan untuk memilih Ryzen 3 1200, harap dicamkan & diingat bahwa Haram Hukumnya menggunakan motherboard yang tidak bisa overclock (chipset A320). Karena tindakan itu akan menghilangkan keunggulan utama & alasan utama untuk membeli prosesor Ryzen termurah ini.

Meski demikian patut diingat bahwa Ryzen 3 1200 yang dioverclock ke 3.9GHz hingga meledak masuk neraka sekalipun tetap belum bisa mengalahkan Core i3 9100F yang berjalan santai sambil tersenyum dengan harga yang hampir sama.
Selain itu dengan hanya menambah Rp.100 ribu saja, bisa didapatkan Ryzen 3 1300X yang kecepatan standardnya lebih tinggi dan kemampuan overclocknya juga lebih tinggi.
Keberadaan Ryzen 3 1300X memang lebih sedikit di pasaran ketimbang Ryzen 3 1200. Namun bila anda bisa menemukannya, maka lebih baik lupakan Ryzen 3 1200, dan sediakan budget extra 100ribu untuk menebus Ryzen 3 1300X.

AMD Ryzen 3 1300X (bekas) Rp. 1,1 juta

Prosesor AMD Ryzen generasi 1 yang berbasis arsitektur Zen ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2017 dengan codename “Summit Ridge” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,6 GHz (4 core) / 3,9 GHz (1 core).
Summit Ridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm, sehingga clock GHz nya tidak setinggi Ryzen generasi baru.  TDP nya cuma 65 watt sehingga tidak boros daya dan adem.

Sebagai prosesor yang menyandang gelar berakhiran huruf “X”, menandakan bahwa Ryzen 3 1300X adalah prosesor seri Xtreme yang memiliki fitur XFR dan Turbo boost clock yang lebih tinggi ketimbang Ryzen tanpa huruf X.
Oleh karena itu jangan heran jika kinerja Ryzen 3 1300X bahkan masih lebih tinggi dibanding Ryzen 3 2200G yang generasinya lebih baru.
Sebagai prosesor legendaris bergelar “Macan Tua”, Ryzen 3 1300X juga terbukti mampu mengalahkan macan tua andalan Intel yaitu Core i7 2600.

Sekalipun sudah 4 tahun berlalu, namun kinerja Ryzen 3 1300X masih cukup layak & pantas untuk ukuran tahun 2021, apalagi harga bekasnya juga cukup murah di pasaran.
Ryzen 3 1300X juga jauh lebih layak dipilih ketimbang Ryzen 3 1200, karena selain kinerja standardnya lebih tinggi, kemampuan overclock maximalnya juga lebih tinggi.
Ryzen 3 1300X rata-rata stabil digenjot di 3.9GHz tanpa harus menaikkan voltase dan mampu stabil di 4GHz hanya dengan voltase 1.3V saja. Sesuatu yang mustahil bisa dilakukan pada Ryzen 3 1200.
Selain itu, tanpa dioverclock pun Ryzen 3 1300X sudah jauh lebih kencang daripada Ryzen 3 1200, sehingga motherboard yang tidak bisa overclock pun tidak diharamkan bagi pengguna prosesor ini.
Dalam kondisi standard pun, Ryzen 3 1300X juga sudah lebih kencang daripada Core i5 4670, apalagi jika prosesor AMD ini di-overclock.

Ryzen 3 1300X juga cocok bagi kalangan yang menganggap bahwa overclock ke angka 4GHz adalah wajib hukumnya. Mengingat kebanyakan Ryzen generasi 1 pasti sulit stabil di 4GHz (bahkan banyak yang cuma mentok di 3,6GHz-3.8GHz), maka kemampuan Ryzen 3 1300X untuk stabil di 4GHz menjadikannya sebagai prosesor yang wajib dimiliki umat AMD yang menganggap sakral angka 4GHz.

Meski demikian patut diingat bahwa Ryzen 3 1300X yang dioverclock ke 4GHz hingga meledak masuk neraka sekalipun tetap belum bisa mengalahkan Core i3 9100F yang berjalan santai sambil tersenyum dengan harga yang hampir sama.
Jadi prosesor ini hanya layak & pantas bagi umat pemuja AMD atau orang yang memiliki motherboard AM4 dengan chipset A320, B350, B450.
Sebab seringkali ada orang yang memutuskan membeli dulu prosesor Ryzen termurah sambil menunggu tabungannya cukup untuk membeli seri Ryzen terbaru. Ryzen 3 1300X adalah prosesor yang secara kinerja masih layak & pantas untuk melayani tuan nya selama “masa tunggu” itu.

AMD Ryzen 5 1400 (bekas) Rp. 1,3 juta

Prosesor AMD Ryzen generasi 1 yang berbasis arsitektur Zen ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2017 dengan codename “Summit Ridge” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core + HT (8 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,4 GHz (4 core) / 3,4 GHz (1 core).
Summit Ridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm, sehingga clock GHz nya tidak setinggi Ryzen generasi baru. TDP nya cuma 65 watt sekalipun sudah dibekali HT (8 thread). Temperatur standard nya pun tergolong adem, bahkan lebih adem ketimbang Ryzen generasi baru yang clock standardnya cenderung jauh lebih tinggi.

Sekalipun sudah 4 tahun berlalu, namun kinerja Ryzen 5 1400 masih cukup memuaskan di tahun 2021 berkat adanya HT yang mampu mendongkrak kinerjanya secara signifikan di berbagai aplikasi encoding/rendering.
Ryzen 5 1400 termasuk prosesor legendaris alias “macan tua” yang kinerjanya masih sanggup mengalahkan prosesor-prosesr generasi baru baik dari Intel maupun AMD

Pada benchmark Cinebench 15, kinerja standard Ryzen 5 1400 bahkan masih mampu mengalahkan Core i3 9100F yang  merupakan prosesor generasi baru yang menjadi favorit umat Intel. Dan ketika dioverclock, sudah pasti akan meninggalkan Core i3 9100F dalam deru & debu. Sementara pengguna Core i3 9100F hanya bisa melongo karena menyadari bahwa prosesornya mustahil bisa dioverclock sampai dunia kiamat sekalipun.

Namun harus diingat bahwa penggemar overclock mungkin tidak akan terlalu puas dengan kemampuan overclock Ryzen 5 1400. Karena kebanyakan Ryzen 5 1400 hanya stabil di kisaran 3.6Ghz saja. Sangat berbeda jauh dengan Ryzen 3 1300X yang semuanya mampu stabil dioverclock ke 4GHz.
Oleh karena itu, bagi kalangan gamer, Ryzen 3 1300X akan jauh lebih disarankan ketimbang Ryzen 5 1400. Karena kebanyakan game tidak mendapatkan peningkatan kinerja dengan adanya Hyper Threading/SMT (yang ada pada Ryzen 5 1400), bahkan ada beberapa game yang malah turun kinerjanya ketika HT diaktifkan.
Fakta memang membuktikan bahwa Game lebih membutuhkan jumlah Real Core, bukan HT/SMT. Dan jumlah real core Ryzen 3 1300X dan Ryzen 5 1400 adalah sama-sama 4 core. Bedanya adalah clock real core Ryzen 3 1300X jauh lebih tinggi baik dalam keadaan standard maupun overclock. Jadi Ryzen 5 1400 kurang cocok bagi kalangan gamer, namun lebih cocok bagi kalangan yang berkutat di encoding/rendering, dimana peranan HT lebih besar untuk aplikasi semacam itu.

AMD Ryzen 5 1500X (bekas) Rp. 1,5 juta

Prosesor AMD Ryzen generasi 1 yang berbasis arsitektur Zen ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2017 dengan codename “Summit Ridge” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,6 GHz (4 core) / 3,9 GHz (1 core).
Summit Ridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm, sehingga clock GHz nya tidak setinggi Ryzen generasi baru.  TDP nya cuma 65 watt sekalipun sudah dibekali HT (8 thread).

Sebagai prosesor yang menyandang gelar berakhiran huruf “X”, menandakan bahwa Ryzen 5 1500X adalah prosesor seri Xtreme yang memiliki fitur XFR dan Turbo boost clock yang lebih tinggi ketimbang Ryzen tanpa huruf X.
Oleh karena itu kinerja Ryzen 3 1500X mampu jauh melewati prosesor intel generasi baru seperti Core i3 9100F dan nyaris menyamai Core i3 10100F.

Sekalipun sudah 4 tahun berlalu, namun kinerja Ryzen 3 1500X masih cukup memiliki tenaga untuk dipamerkan terhadap prosesor-prosesor generasi baru dari Intel maupun AMD.
Namun sekalipun kinerjanya memuaskan, namun secara harga kurang layak untuk dimiliki karena 3 alasan :

1. Kinerja standard Ryzen 5 1500X masih belum mampu mengalahkan Core i3 10100F yang harganya lebih murah & lebih baru. Umat pecinta AMD memang seakan menelan pil pahit ketika menyadari realita bahwa harga bekas Ryzen 5 1500X lebih mahal daripada harga baru Core i3 10100F. Memang betul bahwa Ryzen 5 1500X tentunya masih bisa dioverclock lagi untuk bisa menyalip Core i3 10100F yang mustahil bisa dioverclock itu, namun harga bekas Ryzen 5 1500X yang lebih mahal membuatnya jadi tidak menarik dan membuat umat AMD lebih memilih Ryzen 5 1400 yang lebih murah itu untuk dioverclock.

2.  Harga bekas Ryzen 5 1500X terlalu mahal hingga mendekati harga bekas Ryzen 5 1600 yang jauh lebih unggul segala-galanya karena dibekali 6c0re + HT (12 thread). Memang betul bahwa Ryzen 5 1600 biasanya diperbandingkan dalam segmen prosesor kisaran Rp.2 juta, namun karena umumnya Ryzen 5 1600 dijual di kisaran Rp. 1,65-1,7 juta maka itu berarti selisihnya cuma berkisar Rp.150-200 ribu saja sehingga biasanya orang akan menyesal ketika membeli Ryzen 5 1500X dan bukannya Ryzen 5 1600.
Ceritanya akan berbeda jika membeli Ryzen 5 1400 yang juga sama-sama 4core-8thread seperti Ryzen 5 1500X, namun karena harga Ryzen 5 1400 jauh lebih murah, maka orang tidak mungkin membandingkannya dengan Ryzen 5 1600 yang jauh lebih mahal.

3. Harga bekas Ryzen 5 1500X terlalu mahal hingga mendekati harga bekas Ryzen 3 3100  yang generasinya lebih baru.
Sekalipun Ryzen 3 3100 juga sama-sama 4core-8thread, namun karena teknologinya jauh lebih baru, maka lebih tinggi kinerjanya & jauh lebih tinggi pula kemampuan overclocknya.
Memang betul bahwa Ryzen 3 3100 biasanya diperbandingkan dalam segmen prosesor kisaran Rp.2 juta, namun karena umumnya Ryzen 3 3100 dijual di kisaran Rp. 1,65 juta (bekas) – 1,8 juta (baru), maka itu berarti selisih harga bekasnya dengan Ryzen 5 1500X cuma berkisar Rp.150 ribu saja, sehingga biasanya orang akan menyesal ketika membeli Ryzen 5 1500X dan bukannya bersabar menabung sebentar untuk membeli Ryzen 3 3100.

AMD Ryzen 3 2200G (Baru/Bekas) Rp. 1,5 juta

Prosesor AMD Ryzen generasi 2 yang masih berbasis arsitektur Zen ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2018 dengan codename “Raven Ridge” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,5 GHz  dan clock Turbo 3,65 GHz (4 core) / 3,7 GHz (1 core).
Keunggulan utama Ryzen 3 2200G adalah pada adanya integrated grafik (iGPU) yang kinerjanya luar biasa bagus, dan mampu mengalahkan VGA card kelas low end seperti Geforce GT 1030 yang harganya berada di kisaran Rp. 1 juta

Sekalipun Raven Ridge adalah generasi Ryzen kedua, namun arsitekturnya masih menganut generasi 1, yang berarti masih berbasis proses manufaktur 14 nm (bukan 12nm seperti prosesor Ryzen generasi 2 lainnya). Meski demikian AMD mengoptimalkannya sehingga clock standardnya mampu lebih tinggi dibanding Ryzen generasi 1, sekalipun kemampuan overclocknya sama persis seperti Ryzen generasi 1.
Sekalipun dibekali integrated grafik (iGPU) Vega 8, namun TDP nya cuma 65 watt sehingga tidak boros daya dan adem.

Secara kinerja, Ryzen 3 2200G sama persis seperti Ryzen 3 1200 yang dioverclock ke 3.5GHz. Oleh karena itu bagi yang motherboardnya tidak bisa untuk overclock (chipset A320), maka kinerja standard Ryzen 3 2200G jelas jauh diatas kinerja standard Ryzen 3 1200.
Namun keunggulan utama Ryzen 3 2200G sebetulnya bukan disini saja, tapi pada integrated grafiknya.

Contoh iklan harga pasaran VGA card Geforce GT 1030: Kinerja integrated grafik VEGA 8 bahkan mengalahkan VGA card Geforce GT 1030 2GB yang harga pasarannya lebih dari Rp. 1 juta

Kinerja integrated grafis (iGPU) Vega 8 pada Ryzen 3 2200G bahkan mampu mengalahkan VGA Card Geforce GT 1030 2GB yang harganya lebih dari Rp. 1 juta.
Oleh karena itu, bandrol harga Ryzen 3 2200G Rp. 1,5 juta itu boleh dibilang sangat murah karena didalamnya telah terkandung sebuah harga VGA card senilai Rp. 1 juta yg berarti sesungguhnya harga prosesornya seolah cuma 500 ribu saja.

Kehebatan kinerja grafis Vega 8 adalah keunggulan utama Ryzen 3 2200G yang membuatnya menjadi prosesor AMD paling laris & paling diperebutkan di segmen harga Rp.1 juta sepanjang tahun 2020 hingga awal 2021.
Karena hanya dengan Ryzen 2200G dan memang cuma dengan prosesor ini saja, toko komputer bisa menjual spek PC Gaming Kere Hore yang murah meriah tapi kinerjanya memuaskan.

Tanpa adanya Ryzen 3 2200G, mustahil bisa dirakit sebuah PC Gaming Kere Hore seperti contoh di atas. Dan faktanya memang mustahil ada prosesor lain di muka bumi ini, selain Ryzen 3 2200G, yang mampu melahirkan spek PC Gaming Kere Hore yang murah tapi cukup memuaskan untuk memainkan game-game berat terbaru di settingan 720p medium atau 1080p low.
Mayoritas PC Gamer Kere Hore biasanya menggunakan monitor 19″ yang resolusinya pastilah 720p, sehingga pasti akan cukup terpuaskan dengan kinerja grafis Vega 8 pada Ryzen 3 2200G. Bila yang dimainkan game-game online yang enteng seperti CS Go, Fortnite, PUBG, dsb, sudah jelas ratusan FPS yang akan didapat.
Oleh karena itulah Ryzen 3 2200G diperebutkan & digandrungi oleh banyak kalangan, mulai dari gamer pemula/amatiran, gamer pemuja PC kere hore, dan pemilik warnet game online.  Ditambah lagi kalangan pecinta Mini PC juga banyak yang mencari prosesor ini untuk mewujudkan impian mereka menciptakan PC Gaming terkecil, karena sekecil-kecilnya PC adalah PC yang tanpa VGA card.

Saking larisnya Ryzen 3 2200G, orang-orang bahkan sudah tidak peduli lagi apakah itu baru/bekas, yang penting ada barangnya, pasti langsung disikat dalam kuantiti berapapun oleh para pedagang & tengkulak. Karena hanya dengan bermodalkan prosesor ini, dan memang cuma bisa dengan prosesor ini saja,  sebuah toko komputer baru bisa menjual spek PC Gaming Kore Hore yang menghasilkan profit lebih tinggi buat mereka.

 

Prosesor Intel kisaran harga Rp.1 juta

Intel Core i5 4670 (bekas) Rp. 900 ribu

Prosesor Intel generasi 4 ini diluncurkan pada kuartal ke 3 tahun 2013 dengan codename “Haswell” (22 nm). Prosesor ini memiliki 4 core saja tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,6 GHz (4 core) / 3,8 GHz (1 core).
Haswell adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 22 nm, sehingga cenderung lebih boros daya & lebih panas, dengan TDP mencapai 84 watt

Sekalipun sudah 7 tahun berlalu, namun Core i5 4670 masih saja banyak dijual di bursa prosesor bekas. Bahkan harga bekasnya masih mendekati Rp. 1juta.
Ini tentu sebuah kekonyolan sekaligus pembodohan konsumen, mengingat dengan harga di kisaran itu bisa didapatkan prosesor Intel generasi baru yang amat sangat jauh lebih cepat dan kondisinya baru, bukan barang bekas.
Namun banyaknya konsumen yang menganggap Core i5 selalu lebih kencang daripada Core i3 membuat kebodohan ini makin mengakar hingga dunia akhirat, karena fakta yang sesungguhnya adalah: Core i5 generasi lawas seperti ini kinerjanya amat sangat jauh dibawah Core i3 generasi baru. Perbedaan kinerjanya bahkan ibarat surga-neraka

Core i5 4670 hanya mampu menunjukkan giginya pada prosesor Ryzen lawas & termurah AMD, yaitu Ryzen 3 1200. Namun harap diingat bahwa Ryyzen 3 1200 adalah prosesor yang sangat mudah dioverclock ke kisaran 3.8GHz dengan motherboard murah sekalipun. Sementara itu Core i5 4670 mustahil bisa dioverclock untuk bisa menyaingi kinerja Ryzen 3 1200 yang melejit jauh setelah dioverclock.
Jadi jelas bahwa Core i5 4670 sama sekali tidak layak & tidak pantas di mata pengguna Intel maupun AMD.
Prosesor semacam ini hanya akan jadi bahan cacian, hinaan, dan cercaan oleh umat AMD maupun Intel. Eksistensi prosesor ini adalah suatu kehinaan & simbol kebodohan & ketololan di bursa prosesor bekas

 

Intel Core i7 2600 (bekas) Rp. 1,3 juta

Prosesor Intel generasi 2 ini diluncurkan pada kuartal ke 1 tahun 2011 dengan codename “Sandy Bridge” (32 nm). Prosesor ini memiliki 4 core+HT (8 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,6 GHz (4 core) / 3,9 GHz (1 core).
Sandy Bridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 32 nm, sehingga cenderung sangat boros daya & panas, dengan TDP mencapai 95 watt.
Core i7 2600 adalah prosesor legendaris alias “macan tua” yang di masa jayanya diagung-agungkan karena kinerjanya yang bagus.

Sekalipun sudah 9 tahun berlalu, namun Core i7 2600 masih saja dijual dengan harga mahal karena predikatnya sebagai “macan tua”. Bahkan harga bekasnya masih berkisar Rp. 1,3 juta.
Ini tentu sebuah kekonyolan sekaligus pembodohan konsumen, mengingat dengan harga di kisaran itu bisa didapatkan prosesor Intel/AMD generasi baru yang jauh lebih cepat dan kondisinya baru, bukan barang bekas.
Namun banyaknya konsumen yang mendewa-dewakan label “Core i7” membuat kebodohan ini makin mengakar hingga dunia akhirat, karena fakta yang sesungguhnya adalah: Core i7 bergelar “Macan Tua” pun akan langsung ompong giginya ketika dihajar oleh Core i3 generasi baru.

Bahkan ketika dihadapkan pada Ryzen generasi lawas seperti Ryzen 3 1300X dan Ryzen 2200G yang notabene cuma 4 core tanpa HT,  Core i7 2600 juga rontok giginya pada benchmark Cinebench 20.
Padahal Macan Tua dari Intel ini dibekali HT (4core-8thread). Namun itu semua tak mampu menyelamatkannya dari keganasan Ryzen 3 1300X yang merupakan “Macan Tua” dari kubu AMD.
Padahal secara konsumsi daya, Ryzen 3 1300X cuma 65watt, yang berarti jauh lebih adem & irit listrik ketimbang Core i7 2600 yang panas dan boros listrik di 95 watt.

Jadi jelas, jika di tahun 2021 ini, masih ada yang berani-beraninya berpikir untuk membeli Core i7 2600, maka pastilah itu kaum yang tak berakal atau tersesat.

 

Intel Core i7  3770 (bekas) Rp. 1,4 juta

Prosesor Intel generasi 3 ini diluncurkan pada kuartal ke 2 tahun 2012 dengan codename “Ivy Bridge” (22 nm). Prosesor ini memiliki 4 core+HT (8 thread) dengan clock standard 3,4 GHz  dan clock Turbo 3,9 GHz (4 core) / 3,9 GHz (1 core).
Ivy Bridge adalah generasi prosesor jadul yang masih berbasis proses manufaktur 22 nm, sehingga masih agak boros daya & panas, dengan TDP mencapai 77 watt.
Core i7 3770 juga termasuk salah satu prosesor legendaris alias “macan tua” yang di masa jayanya diagung-agungkan karena kinerjanya yang bagus.

Sekalipun sudah 9 tahun berlalu, namun Core i7 3770 masih saja dijual dengan harga mahal karena predikatnya sebagai “macan tua”. Bahkan harga bekasnya masih berkisar Rp. 1,4 juta.
Ini tentu sebuah kekonyolan sekaligus pembodohan konsumen, mengingat dengan harga di kisaran itu bisa didapatkan prosesor Intel/AMD generasi baru yang jauh lebih cepat dan kondisinya baru, bukan barang bekas.
Namun banyaknya konsumen yang mendewa-dewakan label “Core i7” membuat kebodohan ini makin mengakar hingga dunia akhirat, karena fakta yang sesungguhnya adalah: Core i7 bergelar “Macan Tua” pun akan langsung ompong giginya ketika dihajar oleh Core i3 generasi baru.

Ketika dihadapkan pada Ryzen generasi lawas seperti Ryzen 5 1400,  Core i7 macan tua ini juga akan tersungkur menjadi macan ompong. Menghadapi Ryzen 5 1400 dalam kondisi standard saja kalah, apalagi bila Ryzen 5 1400 nya di-overclock.

 

Core i3 9100F (Baru) Rp. 1,1 juta

Prosesor Intel generasi 9 ini diluncurkan pada kuartal ke 2 tahun 2019 dengan codename “Coffee Lake” (14 nm). Prosesor ini memiliki 4 core saja tanpa HT (4 thread) dengan clock standard 3,6 GHz  dan clock Turbo 3,8 GHz (4 core) / 4,2 GHz (1 core).
Coffee Lake adalah generasi prosesor baru yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm seperti prosesor lawas generasi 6 (SkyLake), TDP nya juga sama-sama 65 watt.
Prosesor Intel generasi 9 ini mengadopsi Socket LGA 1151 yang tentunya tidak akan kompatibel dengan motherboard yang diperuntukkan bagi prosesor Intel generasi 8 ke bawah.

pc-corei7corei3-corei39100f

Kehadiran prosesor intel generasi 9 ini merupakan terobosan baru sekaligus kejutan hebat dari Intel. Karena intel yang biasanya membandrol harga prosesornya lebih mahal daripada AMD, kini membanting harga prosesor terbarunya untuk menghadapi serangan prosesor AMD yang kian hari makin merajai pangsa pasar prosesor.
Dengan harga Core i3 9100F yang nyaris cuma Rp. 1 juta, jangankan Core i7 genarasi lawas, bahkan proseor AMD Ryzen  di harga 1 juta pun tak mampu menaklukkan keperkasaan prosesor Intel Core i3 generasi 9 ini.

Sekalipun kastanya seolah terlihat lebih rendah karena menyandang gelar “Core i3”, namun secara kinerja terbukti mampu mempermalukann Core i7 generasi sebelumnya yang dibandrol dengan harga 2x lebih mahal .

Sebetulnya prosesor intel generasi 9 secara teknologi & kinerja masih mirip dengan generasi 8, oleh karena itu codename kedua-duanya juga masih sama yaitu “Coffe Lake”. Yang paling membedakan sebetulnya hanyalah harga jualnya. Prosesor intel generasi 9 dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding generasi 8, sebagai strategi intel untuk mengatasi persaingan dari AMD Ryzen yang kian hari makin populer.
Strategi pangkas harga ini dilakukan karena intel sudah tak mampu lagi bersaing secara teknologi lagi dengan AMD (intel masih berkutat di 14nm, AMD sudah di 7nm), sehingga menjual prosesor generasi terbarunya dengan harga murah menjadi senjata pamungkas yang bisa dilakukan oleh Intel untuk bersaing dengan AMD.

 

Core i3 10100F (Baru) Rp. 1,3 juta

Prosesor Intel generasi 10 ini diluncurkan pada kuartal ke 4 tahun 2020, tepatnya di bulan November 2020, dengan codename “Comet Lake” (14 nm). Versi yang ada integrated grafis (10100 tanpa huruf F) sudah diluncurkan duluan pada kuartal 2 tahun 2020, namun kurang laku karena berada di segmen kisaran harga Rp. 2 juta yang didominasi total oleh AMD. Core i3 10100 hanya menjadi bulan-bulanan & dipermalukan oleh banyak prosesor AMD di kisaran harga Rp.2 juta, mulai dari Ryzen 3 3100, Ryzen 5 2600, dll menghancurleburkan Core i3 10100 hingga tersungkur berdarah-berdarah, seperti telah dibahas di artikel yang lalu

Menyadari kekalahan telak intel Core i3 10100 ketika diposisikan di segmen harga kisaran Rp.2 juta, akhirnya Intel membikin varian lebih murah yang tanpa dilengkap integrated grafik dan diposisikan di segmen harga Rp. 1juta, sebuah segmen yang agak ditinggalkan AMD yang kini fokus menggarap prosesor kinerja tinggi di kisaran harga Rp.2 juta dan diatasnya.

Pada bulan November 2020, akhirnya Core i3 10100F (yang harganya murah karena tanpa integrated grafik) diluncurkan untuk segmen prosesor kinerja tinggi di harga kisaran Rp. 1juta, dimana segmen semacam itu sudah ditinggalkan oleh AMD. Karena memang untuk segmen harga Rp. 1 juta AMD sudah tidak lagi menelurkan prosesor berkinerja tinggi, melainkan proseser segmen kantoran (Athlon 300G) dan PC Gaming Kere Hore (Ryzen 2200G).
Prosesor AMD yang memiliki kinerja tinggi di segmen harga Rp.1 juta hanyalah prosesor legendaris alias “macan tua” yaitu Ryzen generasi 1 yang tentunya dijual di bursa prosesor bekas. Dan semua macan tua AMD itu pun juga tidak ada yang mampu mengalahkan kedigdayaan Core i3 10100F.

Sama seperti Core i3 10100, Core i3 10100 dengan huruf F memiliki 4 core + HT (8 thread) dengan clock standard 3,6 GHz  dan clock Turbo 4,1 GHz (4 core) / 4,3 GHz (1 core).
Comet Lake adalah generasi prosesor baru yang masih berbasis proses manufaktur 14 nm seperti prosesor lawas generasi 6 (Skylake), TDP nya juga sama-sama 65 watt.
Prosesor Intel generasi 10 ini mengadopsi Socket LGA 1200 yang tentunya tidak akan kompatibel dengan motherboard yang diperuntukkan bagi prosesor Intel generasi 9 ke bawah.

pc-corei7corei3-corei310100

Kehadiran prosesor intel generasi 10 ini meneruskan prestasi bagus dari intel generasi 9. Sekalipun kastanya seolah terlihat lebih rendah karena menyandang gelar “Core i3”, namun secara kinerja tentu saja bisa mengalahkan Core i7 generasi sebelumnya. Secara harga pun Comet Lake cukup terjangkau seperti halnya intel generasi 9.

Namun sangat disayangkan karena prosesor generasi 10 ini menggunakan socket LGA 1200 yang berarti membutuhkan motherboard yang berbeda dengan prosesor generasi 9. Sekalipun harga motherboard chipset H410 cukup murah & terjangkau, namun keharusan untuk mengikuti siklus upgrade motherboard yang terus menerus, memang merupakan mimpi buruk pengguna Intel yang tidak akan pernah menghantui pengguna AMD.
Namun bila umat Intel memang telah memutuskan untuk berpegang teguh pada keyakinan agamanya, maka mereka tentu juga harus rela & jangan mengeluh untuk menjalankan kewajiban Ibadah & Ritual ganti motherboard secara rutin.

Platform Pengujian

Berikut ini beberapa tampilan PC Reviewland yang saya pakai untuk melakukan pengujian prosesor.
Untuk mempercepat & mempermudah proses pengujian berbagai macam prosesor, saya menggunakan beberapa PC yang memang saya pakai sehari-hari

Berikut ini beberapa merk hardware yang digunakan pada PC Reviewland…

Prosesor: Intel dan AMD
Memory: Team T-Force RGB, Geil Evo X II RGB, V-Gen
PSU: FSP dan Corsair
SSD: Adata, Pioneer, Apacer, V-Gen
Motherboard: Gigabyte, Asrock
Videocard: MSI, Sapphire, Gigabyte, Inno3D, Colorful.

pc-amdradeoncrossfire-3

 

pc-psu-fspsfxpro450-shoe2

pc-deepcoolgammaxxl120t-4

pc-2gpu-inno3dsapphire

Pengujian Benchmark

Cinebench R20

Cinebench R20 merupakan benchmark prosesor yang paling populer dan menjadi kiblat pemujaan bagi umat di seluruh dunia yang ingin mengetahui kinerja prosesornya.
Hasil benchmark Cinebench R20 mencerminkan kinerja prosesor pada software Maxon Cinema 4D R20 yang merupakan aplikasi 3D content creation & rendering paling populer di Industri Profesional dan juga industri film Holywood.
Berbagai film bioskop ternama dibuat menggunakan software Maxon Cinema 4D, antara lain: Spiderman 3, Iron Man, Furious 7, Pacific Rim, War of the Worlds, Inception, Van Helsing, Doom, Beowulf, Golden Compass, Polar Express, dll.

Cinebench R15

Cinebench R15 merupakan benchmark prosesor yang paling populer dan menjadi kiblat seluruh dunia bagi semua umat yang ingin mengetehui kinerja prosesornya. Sekalipun sudah dirilis versi R20 yang lebih baru, namun versi R15 lebih disukai banyak orang karena membutuhkan waktu benchmark yang lebih cepat dan tidak selama Cinebench R20.

Hasil benchmark Cinebench R15 mencerminkan kinerja prosesor pada software Maxon Cinema 4D R15 yang merupakan software 3D rendering paling populer di Industri Profesional dan industri industri film Holywood.
Berbagai film bioskop ternama dibuat menggunakan software Maxon Cinema 4D, antara lain: Spiderman 3, Iron Man, Furious 7, Pacific Rim, War of the Worlds, Inception, Van Helsing, Doom, Beowulf, Golden Compass, Polar Express, dll.

Geekbench 5 (64bit)

Geekbench merupakan aplikasi lintas platform yang sangat populer dan menjadi barometer untuk mengukur kinerja hardware dengan berbqgai macam jenis aplikasi yang umum.
Software buatan Primate Lab asal Canada ini memisahkan antara test single-core dan multi-core, sehingga kita bisa tahu kinerja prosesor pada kondisi single-tasking maupun multi-tasking dengan menggunakan berbagai aplikasi & software yang disimulasikan oleh benchmark ini.

Blender 2.81 (bmw27)

Blender merupakan aplikasi 3D Content Creation yang  cukup lengkap fiturnya namun gratis (open source). Oleh karena gratis, maka Blender menjadi kiblat tempat bersujud & menyembah para content creator yang menyukai aplikasi Open Source.
Sekalipun Blender kurang populer di kalangan Industri profesional (misal industri film Holywood), namun Blender sangat populer di kalangan content creator amatir maupun pelajar. Oleh karena itu kinerja benchmark prosesor di aplikasi Blender bisa menjadi barometer acuan buat kalangan tersebut ketika ingin membeli PC.

 

4 Juara prosesor sejuta umat di kisaran harga Rp. 1 juta

Dari seluruh hasil perbandingan benchmark dan penjelasan keunggulan+kelemahan masing-masing prosesor, maka dapat diambil beberapa prosesor terbaik di kelas harga kisaran Rp. 1 juta.
Mengambil cuma 1 juara saja  jelas tidak masuk akal, karena segmen sejuta umat jenis konsumennya sangat banyak, beragam, dan kebutuhannya berbeda-beda. Oleh karena itu diambil 4 juara yang mewakili 4 jenis konsumen di segmen harga Rp. 1 juta ini

1. Juara Prosesor tercepat sejuta umat : Core i3 10100F (Rp. 1,3 juta)

Jelas tak dapat dipungkiri bahwa Core i3 10100F adalah prosesor tercepat & terhebat di kelas harga kisaran Rp. 1 juta. Prosesor ini bahkan layak dinobatkan sebagai prosesor pembunuh semua Macan Tua, karena semua prosesor legendaris Intel & AMD akan tewas di tangan prosesor intel Core i3 generasi 10 ini.

Core i3 10100F sangat cocok bagi para PC Gamer yang berencana menggunakan VGA card, karena dengan harganya yang murah itu sudah diperoleh prosesor berkinerja tinggi yang mampu meladeni VGA kelas menengah-atas tanpa khawatir terjadi bottleneck.
Dengan Core i3 10100F anda tidak akan mengalami bottleneck CPU bila VGA card yang dipakai tidak lebih tinggi dari GTX 1660 Super/ GTX 1070 / RX 5600 XT. Jadi bila VGA card yang anda pakai masih dibawah itu, maka kinerja prosesor ini benar-benar overkill dan masih bertenaga sampai upgrade VGA berikutnya.

Prosesor ini juga cocok bagi para content creator yang menginginkan prosesor tercepat untuk melakukan pekerjaan encoding/render di harga kisaran Rp. 1juta.

2. Juara Prosesor PC Gaming Kere Hore & PC Warnet Game Online : Ryzen 3 2200G (Rp. 1,5 juta)

Sekalipun Core i3 10100F adalah prosesor tercepat di harga Rp.1 juta, namun bukan berarti prosesor itu akan cocok bagi konsumen yang ingin merakit PC Gaming “Kere Hore”. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dengan Core i3 10100F mustahil anda bisa merakit PC Game Kere Hore, karena dengan prosesor intel ini ada kewajiban untuk beli lagi VGA card gaming yang harganya pastilah kisaran Rp. 1 juta, plus ditambah PSU yang bagus kalau mau awet.
Sementara dengan Ryzen 3 2200G, pengeluaran tambahan semacam itu tidak perlu, oleh karena itulah prosesor ini menjadi Amunisi & Peluru yang penting dalam pembuatan spek PC Gaming Kere Hore.
Kinerja integrated Vega 8 yang terbukti mampu mengalahkan VGA card seharga lebih dari Rp. 1 juta (Geforce GT 1030), menjadikan Ryzen 3 2200G sebagai prosesor yang bisa dibilang amat sangat murah sekali harganya bila menghitung nilai harga VGA card di dalamnya.

Spek PC Game Kere Hore hanya bisa dibuat dengan prosesor yang integrated grafiknya powerful setara VGA card, dan harganya murah. Satu-satunya prosesor di dunia yang cocok untuk itu hanyalah Ryzen 3 2200G (atau jika sulit menemukannya, bisa juga Ryzen 3 3200G yang kinerjanya sedikit diatasnya, namun lebih mahal sekitar Rp. 300 ribu)

Bagi Gamer Kere Hore yang telah naik kasta dan mulai mampu membeli VGA card, maka Ryzen 3 2200G juga cukup mumpuni untuk meladeni VGA card kelas mainstream. Dengan Ryzen 3 2200G anda tidak akan mengalami bottleneck CPU, bila VGA card yang dipakai tidak lebih tinggi dari GTX 1650 Super/ GTX 1060 / RX 580 / RX 5500 XT. Jadi bila VGA card yang anda pakai masih dibawah itu, maka kinerja prosesor ini benar-benar overkill dan masih bertenaga sampai upgrade VGA berikutnya.
GTX 1650 Super dan RX 580 adalah video card mainstream yang sangat laris dan itu sangat cocok untuk menjadi pasangan ideal Ryzen 3 2200G (tidak terjadi bottleneck CPU maupun GPU).

NOTE: Karena Ryzen 3 2200G kondisi bekas maupun baru umumnya sangat sulit ditemukan (karena pasti ditimbun & disembunyikan para pedagang sebagai senjata andalan untuk menjual PC Gaming kere hore dengan harga termurah), maka kebanyakan konsumen yang mencari prosesor saja biasanya akan ditawari Ryzen 3 3200G yang harganya lebih mahal sekitar Rp.300 ribu namun dengan kinerja yang tidak terlalu beda jauh.
Bila anda memang sudah putus asa menemukan Ryzen 3 2200G maka Ryzen 3 3200G bisa dijadikan alternatif.
Harap diingat bahwa bila barang kondisinya langka, maka berlaku hukum PENJUAL ADALAH RAJA, jadi konsumen sebaiknya pasrah & bersujud mengikuti anjuran pedagang sesuai ketersediaan barang alternatif  yang ada.

3. Juara Prosesor PC kantoran terbaik: Athlon 3000G (Rp. 750 ribu)

Sekalipun Core i3 10100F adalah prosesor tercepat di harga Rp.1 juta, namun bukan berarti prosesor itu akan cocok bagi konsumen yang ingin merakit PC Kantoran Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dengan Core i3 10100F mustahil anda bisa memenuhi kriteria yang dibutuhkan PC Kantoran. PC Kantoran umumnya mendambakan prosesor yang sangat irit daya, ada integrated grafis, dan harganya paling murah. Ketiga kriteria itu jelas tidak ada pada Core i3 10100F dan hanya bisa terpenuhi dnegan Athlon 3000G.
Spek PC Kantoran termurah hanya bisa dibuat dengan prosesor yang sangat hemat daya, integrated grafiknya cukup baik, dan harganya paling murah. Satu-satunya prosesor di dunia yang cocok untuk itu hanyalah Athlon 3000G

4. Juara Prosesor tercepat sejuta umat (*hanya berlaku bagi fans AMD yang anti-intel saja): Ryzen 3 1300X (Rp. 1,1 juta)

Tipikal konsumen & level fanatisme konsumen pastilah beragam. Sekalipun realita mengatakan prosesor tercepat sejuta umat adalah Core i3 10100F, namun umat fanatik AMD pasti tetap tidak akan mau menerima realita itu, dan tetap akan membeli prosesor AMD sekalipun sisa uang di dompetnya cuma sekitar Rp. 1juta.
Untuk tipikal konsumen semacam ini, maka prosesor yang paling tepat buat mereka adalah Ryzen 3 13000X.
Kinerja Ryzen 3 1300X cukup mumpuni untuk game berkat clock speed default & OC nya yang lebih tinggi ketimbang Ryzen 3 1200. Ryzen 3 1300X bahkan lebih kencang ketimbang Ryzen 3 2200G.

Dengan Ryzen 3 1300X anda tidak akan mengalami bottleneck CPU, bila VGA card yang dipakai tidak lebih tinggi dari GTX 1650 Super/ GTX 1060 / RX 580 / RX 5500 XT. Jadi bila VGA card yang anda pakai masih dibawah itu, maka kinerja prosesor ini benar-benar overkill dan masih bertenaga sampai upgrade VGA berikutnya.
GTX 1650 Super dan RX 580 adalah video card mainstream yang sangat laris dan itu cocok untuk menjadi pasangan ideal Ryzen 3 1300X (tidak terjadi bottleneck CPU maupun GPU).
Jadi bagi umat fanatik AMD yang berencana menggunakan VGA card, sebaiknya pilih Ryzen 3 1300X.

Mengapa bukan Ryzen 3 1200?
1. Karena kinerja standard Ryzen 3 1300X jauh diatas Ryzen 3 1200, dengan selisih harga CUMA Rp.100 ribu saja
2. Karena kemampuan overclock Ryzen 3 1300X jauh diatas Ryzen 3 1200. Ryzen 3 1300X pasti bisa stabil di 4GHz, sesuatu yang nyaris mustahil bagi Ryzen 3 1200.
3. Ryzen 3 1200 baru bagus kinerjanya jika dioverclock, jadi tidak bisa pakai motherboard murah meriah A320 yang tidak memiliki fitur overclock. Sementara Ryzen 3 1300X kinerja standardnya sudah kencang tanpa harus dioverclock, jadi tidak masalah jika harus pakai motherboard murmer chipset A320.

Mengapa bukan Ryzen 5 1400 atau 1500X?
Sekalipun kinerja standard kedua prosesor itu diatas Ryzen 3 1300X, namun secara harga & kinerja, kedua prosesor itu kurang menarik. apalagi jika kebutuhannya untuk game, jelas lebih baik Ryzen 3 1300X. Sedangkan bila anda membutuhkan kinerja encoding/rendering yang lebih baik, sekalian saja ke Ryzen 5 1600 atau  Ryzen 3 3100 yang harga bekasnya tidak beda jauh dengan kedua prosesor itu, dan sudah pasti kinerjanya diatas Core i3 10100F.
Perbandingan kinerja Ryzen 5 1600 dan Ryzen 3 3100 ada di artikel sebelumnya yaitu Duel CPU kisaran harga Rp. 2 juta.

 

Budz Kay

REVIEWLAND.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Gadget & Teknologi

Review SmartphoneReview Camera & LensaReview Console & Portable Gaming         The Eye of RE         Review PC & LaptopReview PC & LaptopReview PC & Laptop

"In Hoc Signo Vides"
Behold The Eye of RE