reviewtip2.jpg (5487 bytes)

ASROCK MOTHERBOARD
  Duel overclock CPU 2004 
redball.gif (916 bytes)
  P4 3.2 Extreme Edition, P4 2.4C,
  AXP1700+, Athlon64 3200, Athlon FX-51

  Artikel ditulis oleh: Budz Kay - 20 Januari 2004
  PAGE 1 of 2

Tahun 2004 baru saja mulai, dan arena pertarungan siap ditumpahi lagi oleh darah para petarung Intel & AMD. Intel mengutus petarung terbarunya yaitu P4 3.2 Extreme Edition @ 3.6GHz yg didampingi oleh sang juara andalan yaitu P4 2.4C@3.3GHz. Sementara itu AMD mengirimkan Athlon64 3200 dan Athlon  FX-51 untuk menghadapi laskar intel. Tak lupa sang veteran tua yaitu AthlonXP Tbred-B 1700@3300 turut meramaikan duel kolosal yg menggunakaan 30 macam benchmark ini.
Selain diuji kemampuan overclocknya, berbagai variasi setting overclock untuk P4 juga dapat anda lihat di pertarungan ini...

 

 

 

 

redball.gif (916 bytes)P4 3.2 EXTREME EDITION @ 3.6 GHZ  : PERFORMA TINGGI HASIL KERJA SANTAI INTEL


P4 3.2 HT EE: Hasil kerja santai Intel yg harus ditebus dengan uang $900. Untungnya harga motherboardnya hanya di kisaran $100 saja (i865PE Springdale)

Revolusi total yg dilakukan oleh AMD dengan mengeluarkan Athlon 64-bit dijawab oleh Intel dengan mengeluarkan P4 Extreme Edition yg notabene adalah P4 biasa yg hanya ditambahi L3 cache sebesar 2MB saja.
Meskipun demikian pekerjaan enteng yg dilakukan oleh Intel ini terbukti mampu membungkam Athlon64 3200 maupun Athlon FX-51.
Intel sepertinya ingin membuktikan bahwa revolusi besar yg telah dilakukan AMD teryata masih bisa dibungkam dengan prosesor "lawas" (P4) yg cuma ditambahi L3 saja.
Penambahan L3 cache terbukti dapat memberikan peningkatan kinerja yg sangat banyak pada arsitektur P4.
Berhubung P4 Extreme Edition adalah prosesor P4 HT biasa yg ditambahi L3 cache, maka logikanya seluruh jajaran P4 seri Hyper Threading (mulai dari 2.4GHz) dapat saja ditambahi L3 cache. Bahkan P4 non HT pun bisa saja ditambahi L3 cache bila intel mau, karena semuanya itu menggunakan arsitektur yg sama.
Bayangkan saja bila Intel menambahkan L3 cache pada jajaran P4 kelas mainstream (harga dibawah $200) tentu AMD akan kalang kabut, karena seri Athlon 64-bit ditakdirkan untuk dibandrol dengan harga yg cukup mahal demi menebus biaya riset AMD yg cukup banyak karena mencoba melakukan perombakan besar.
Anehnya, usaha ringan yg dilakukan Intel dengan menambahkan L3 cache harus kita bayar lebih mahal lagi, yaitu dengan bandrol P4 3.2EE seharga $900.
Ini tentu tidaklah mengherankan bila melihat background Intel sebagai perusahaan yg rakus akan profit. Secara bisnis, itu sah-sah saja.
Namun tujuan utama Intel dalam mengeluarkan P4 3.2EE sebenarnya bukanlah untuk meraup laba secara brutal, tapi hanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa cukup dengan menambahkan L3 cache saja, sebuah P4 ber-arsitektur lawas sanggup mengalahkan mahakarya terbaru yg dibuat AMD.
Gebrakan bisnis sesungguhnya dari Intel adalah bila mereka menambahkan L3 cache pada seluruh jajaran prosesor kelas mainstream mereka (kelas 2.4GHz).
Bila Intel sudah melakukan hal itu maka perbedaan harga antara P4 biasa dengan yg ada L3 cachenya tak akan banyak lagi, dan ini akan membuat AMD kesulitan membuat tandingan sepadan di kelas mainstream.
Sama halanya seperti ketika Intel pertama kali ingin memperkenalkan HT, mereka mengeluarkan P4 3.06 yg saat itu adalah satu-satunya yg menggunakan HT dan harganya sangat mahal, namun kemudian intel menerapkan HT pada semua CPU kelas mainstreamnya, hingga sekarang P4 kelas 2.4GHz saja sudah dibekali HT, dan harganya hanya berbeda sedikit sekali dgn P4 tanpa HT.

p4htee-hsftemp.jpg (27465 bytes)
Tidak harus watercooling: Meski dioverclock ke 3.6 GHz, suhu masih berkisar di 38C saja dengan heatsink & fan (Coolermaster IHC + fan Thermaltake 6000RPM).

Secara teknis, P4 3.2 HT Extreme Edition hanyalah sebuah P4 FSB800 seri HyperThreading biasa yg cuma ditambahi L3 cache sebesar 2MB.
Namun agak berbeda dengan P4 HT biasa, Vcore default P4 EE ini sedikit lebih rendah, yaitu 1.5V saja. (Vcore default P4 HT biasa 1.525V).
Ini menunjukkan bahwa meski P4 EE masih menggunakan arsitektur yg sama, namun kualitas produksi Intel makin ditingkatkan. Hebatnya lagi, P4 3.2EE terbukti sanggup dengan mudah dioverclock di 3.6GHz dengan Vcore default !!!. Ini membuktikan bahwa kualitas produksi Intel sebenarnya sudah sanggup menciptakan P4 3.6GHz, namun Intel tak mau melakukannya demi alasan bisnis.

Anehnya, meski dengan mudah dioverclock ke 3.6GHz dengan vcore default, prosesor ini menolak untuk digenjot diatas 3.6GHz dgn Vcore setinggi apapun. Seolah-olah seperti Intel "membatasi" kemampuan overclok prosesor ini di angka 3.6GHz.

Karena Vcore defaul P4 3.2 EE lebih rendah (1.5V) maka suhu yg dihasilkan juga hanya berkisar 37-43C saja (dengan Heatsink+fan). Pada clock 3.6GHz suhu juga hanya berbeda 1C saja karena tegangan tak perlu ditambah.

P4 3.2EE yg diterima oleh REVIEWLAND adalah prosesor dengan multiplier yg tidak dikunci, sehingga experimen dgn berbagai macam setting FSB & multiplier dapat dilakukan yg hasilnya dapat anda lihat di bagian benchmark.
Meski multipliernya tidak terkunci, namun pilihan multiplier yg bisa dipilih hanyalah multiplier yg lebih rendah dibanding defaultnya (16X ke bawah), Namun ini bukanlah masalah karena untuk meningkatkan performa memory bandwith, lebih baik menurunkan multiplier dan menaikkan FSB.

p4htee-p432sisoftcpu.jpg (47298 bytes)
Sang penakluk: Kencang & stabil di angka 3.6GHz dengan Vcore default (1.5V)

Banyak yg mempertanyakan mengenai kompatibilitas P4 EE dengan motherboard yg sudah ada. Namun terbukti bahwa dengan update BIOS saja, semua motherboard i865PE ataupun i875P langsung dapat mengenali L3 cache.
Adanya penambahan L3 cache sebesar 2MB juga langsung dikenali oleh semua software. Bahkan software yg diciptakan jauh sebeluam P4 EE, tetap mengalami peningkatan performa.
Hal ini memang tak perlu diherankan karena kompatibilitas merupakan senjata utama intel.
Sama seperti kompatibiltas HT yg pertama kali digembar-gemborkan hanya bisa disupport i845PE, ternyata juga bisa disupport di chipset purba seperti i845D hanya dengan update BIOS saja.
Alasan utama intel dulu menyebut i845PE sebagai chipset pertama yg mensupport HT hanyalah demi alasan bissnis semata yaitu supaya peluncuran chipset itu sukses dan laku keras, dan setelah akhirnya penjualannya berhasil memenuhi target, hampir semua chipset intel terbukti dapat diupdate BIOS supaya dapat mensupport HT.

p4htee-p432sysmark.jpg (12131 bytes)
Sysmark 2002: Score 442 yg dihasilkan oleh P4 3.2EE standard jelas sulit dikejar prosesor lain

Dulu sewaktu peluncuran teknologi HT, Intel berhasil mengeruk uang dari penjualan P4 HT sekaligus chipset i845PE yg disebut sebagai chipset yg mensupport HT (walapun akhirnya terbukti chipset lawas pun juga bisa diupdate agar support HT). Namun kini untk peluncuran P4 HT EE, intel tampaknya tak berencana mengeluarkan chipset baru. Mungkin intel telah kenyang oleh laba maximal dari penjualan chipset i875P (Canterwood) yg digembar-gemborkan sebagai "satu-satunya" chipset yg mensupport PAT. Bukanlah rahasia umum bahwa setelah target penjualan i875P tercapai, Intel baru mengijinkan produsen motherboard utk meng-expose bahwa chipset i865PE (Springdsale) yg harga motherboardnya hanya setengah i875P ternyata juga mensupport PAT, bahkan performanya lebih kencang drpd i875P.
Karena faktor "sudah kenyang" tersebut, maka intel memurtuskan chipset i865PE dan i875P sebagai basis utama untuk P4 3.2EE. Meskipun demikian, bisa saja chipset lawas mensupport P4 EE. Sebab bagi intel, apa yg tidak bisa kompatibel bisa saja jadi kompatibel.

p4htee-post36unlock.gif (27325 bytes)


P4 3.2 HT EE yg diuji Reviewland multipliernya tidak terkunci, sehingga bisa diturunkan dari 16 ke 13 utk mencapai FSB lebih tinggi.

Dari segi strategi bisnis memang tak ada produsen prosesor lain yg lebih hebat dari Intel. Berdasar laporan finansial tahun ini, profit Intel bahkan melebihi target.
Dengan dominasi Intel yg telah menguasai market share hingga mencapai 83% lebih,

tentunya mustahil bagi AMD utk mengalahkan Intel. Bahkan Tuhan pun mungkin harus bekerja extra keras bila ingin membuat Intel bangkrut.






redball.gif (916 bytes)P4 2.4C @  3.3GHz : MEMBUAT CPU MAHAL KEHILANGAN KHARISMA

p4htee-24ht.jpg (25477 bytes)
P4 2.4C: CPU murah ($160) yg mampu menjegal Athlon64 ($500)

P4 2.4C adalah prosesor P4 seri FSB800 HyperThreading termurah yg ada di pasaran.
Dengan harga berkisar $160, prosesor ini merupakan prosesor terlaris di segmen mainstream market (market utama).
P4 2.4C juga dikenal sebagai prosesor yg mampu dioverclock cukup tinggi. Angka 3.3GHz cukuplah mudah untuk dicapai dalam keadaan sangat stabil dan cukup hanya dengan aircooling saja (Heatsink & fan). Beberapa orang bahkan berhasil melebihi 3.5GHz
Untuk mencapai angka 3.3GHz biasanya cukup menaikkan Vcore ke kisaran 1.575V saja (defaultnya 1.525V)
Meskipun watercooling merupakan cara pendinginan yg lebih baik dibanding heatsink & fan, namun dengan vcore yg hanya dibawah 1.6V saja maka heatsink & fan sebenarnya sudah sangat memadai.

Selain harganya yg murah, P4 2.4C mempunyai keunggulan lain dibanding tipe diatasnya, yaitu multiplier-nya yg kecil (12X).
Dengan multiplier 12X, maka setting FSB yg digunakan untuk mengoverclock akan lebih tinggi, sehingga performa memory bandwith juga akan lebih tinggi dibanding P4 2.6 atau 2.8 yg multipliernya lebih besar.
Pertimbangan pemilihan P4 dgn multiplier yg kecil menjadi penting karena semua P4 HT dikunci multipliernya.
Mengingat batas kemampuan overclock P4 seri HT (2.4C, 2.6C, 2.8C) rata-rata sama, maka pada angka 3.3GHz, anda akan mendapat FSB yg lebih tinggi bila dengan P4 2.4C

Dengan mengoverclock P4 2.4C ke angka 3.3GHz, anda sudah mencapai tingkatan performa yg mustahil disamai oleh AthlonXP Barton tercepat sekalipun. Jangankan Barton, bahkan Athlon64 3200 seharga $500 saja sulit untuk mengalahkan P4 2.4C@3.3. Beberapa benchmark nanti bahkan menunjukkan bahwa P4 2.4C@3.3 berhasil mempermalukan Athlon FX-51 seharga $700.

p4htee-p424sisoftcpu.jpg (52783 bytes)
P4 2.4C HT @ 3.3GHz: Dengan modal CPU seharga $160 anda sudah bisa mengalahkan CPU mahal keluaran Intel (P4 3.2 EE) maupun AMD (Athlon 64) yg harganya di kisaran $500 ke atas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 








 


Memory bandwith tinggi: Multiplier yg kecil (12x) membuat P4 2.4 adalah CPU yg ideal untuk mencapai FSB tinggi

 


Kemampuan overclock P4 2.4C membuat anda harus berpikir 1000X untuk membeli CPU yg mahal

 

redball.gif (916 bytes)AMD TBRED-B AXP 1700+ @  XP3300+ (2.3GHz): VETERAN TUA BERGELAR "BARTON KILLER"

p4htee-xp1700.jpg (27787 bytes)
XP1700@330: Membawa kejayaan masa lalu

AthlonXP Thoroghbred-B 1700+ sempat mengalami masa keemasan, tepatnya di masa sebelum lahirnya P4 seri C (FSB 800).
Kemampuan overclocknya yg mampu mencapai 2.3GHz bila dikombinasikan dengan platform Nforce2 akan menghasilkan mesin pembunuh yg murah meriah, yg saat itu mampu menghabisi P4 seri B (FSB533).

Namun kini sang veteran tua harus menyadari bahwa mustahil baginya utk menghadapai P4 2.4C@3.3 yg sangat perkasa.
Meskipun XP1700@3300 sudah terlalu uzur utk melawan pasukan intel yg usianya muda-muda, namun si tua bangka ini terbukti masih cukup berotot untuk menghajar AthlonXP Barton 3200+.
Memang harus disadari bahwa penambahan L2 cache menjadi sebesar 512MB pada Barton sangat sedikit pengaruhnya bila dibandingkan dengan AthlonXP Thoroughbred yg hanya memiliki L2 cache 256MB saja.
Efeknya tidak seperti penambahan L3 cache pada P4 EE yg mampu mendongkrak kinerja secara besar-besaran.

Karena harga Barton yg termurah sekalipun sudah mendekati $100 (Barton 2500+), maka AXP1700 Thoroughbred-B yg harganya cuma berkisar $50 saja tentu jauh lebih menarik untuk dipilih. Sebab dengan budget diatas $100 anda lebih baik memilih P4 2.4C yg bila dioverclock mustahil dikalahkan oleh Barton dengan cara apapun juga.

Sedangkan AXP Tbred-B 1700+ yg harganya cuma $50 tentunya terlalu jauh lebih murah dibanding P4 2.4C seharga $160. Sehingga kalaupun kalah oleh P4 2.4C tentu harus dimaklumi. Meski demikian sang veteran tua ini terbukti mampu mengalahkan Barton 3200+ yg harganya berkali-kali lipat diatasnya.
Jangankan Barton 3200+, bahkan Athlon64 3200+ saja dapat dikalahkan pada beberapa benchmark

p4htee-axpwaterblock.jpg (24086 bytes)
Tbred-B 1700@3300 (1.4GHz@2.3GHz): Memerlukan watercooling untuk meredam panas yg dihasilkan

Untuk saat ini, AXP Barton dengan harga berkisar $100 atau lebih menjadi prosesor yg sangat tak layak dibeli . Sebab dengan harga $160 anda sudah mendapat P4 2.4C yg kemampuan overclocknya mustahil dikalahkan Barton dengan cara apapun juga.
Athlon64 seharga $500 saja tak mampu mengalahkan P4 2.4C@3.3 jadi jangan harap sebuah Barton mampu.
Selain itu, untuk mendapatkan performa Barton, anda cukup menggunakan AXP Tbred-B saja. Sebab perbedaan antara L2 cache 256MB dengan 512MB sangat kecil pengaruhnya.

Meski AXP Tbred-B 1700 secara defaultnya berjalan di FSB133, namun dijamin 100% bisa berjalan di FSB200 dengan motherboard Nforce2 Ultra 400

Perlu juga diingat, bahwa dengan budget dana dibawah $70, AthlonXP Tbred-B merupakan pilihan yg terbaik.
Prosesor Intel hanyalah cocok bagi orang yg memilki dana $100 ke atas.
Bila anda tak sanggup mengeluarkan dana di atas $100 janganlah sekali-kali membeli prosesor intel, sebab prosesor intel dengan harga dibawah $100 adalah barang rongsokan dengan performa yg jauh lebih buruk dibanding AthlonXP.
Orang yg ngotot memakai produk intel dengan dana dibawah $100, sama seperti orang yg ngotot membeli Mercy dengan budget pas-pasan, akibatnya ia cuma akan dapat Mercy lawas dengan kondisi bobrok & berkarat, yg selalu mogok setiap satu kilometer. Padahal dengan dana sama bisa dapat mobil jepang/korea dengan kondisi yg masih lebih bagus.

Walaupun mercy, tapi kalau bobrok dan selalu mogok maka tukang becak pun tak segan untuk meludahinya.

p4htee-xp1700sisoftmm.jpg (62758 bytes)
Tbred AXP1700+@3300+: Mengalahkan Barton dan Opteron dengan prosesor seharga $50

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

redball.gif (916 bytes)ATHLON64 3200 & ATHLON FX-51: AMD TAK LAGI MURAH, TAK LAGI ASIK DIOVERCLOCK

p4htee-athlon64.jpg (43993 bytes)
Mahal & Prematur: Meskipun inovatif, namun teknologi 64 bit yg dimilikinya saat ini belum berguna dan hanya membuat harga keseluruhan platformnya jadi tak terjangkau sebagian besar orang.

Athlon64 3200 = $500, Athlon FX-51* = $700
                                                             *membutuhkan registered DDR

Athlon64 3200 dan Athlon FX-51 adalah seri prosesor 64-bit yg diluncurkan AMD.
Kedua prosesor itu sama-sama dibekali L1 cache 128K dan L2 cache sebesar 1MB.

Keduanya juga mengintegrasikan memory controller di dalam prosesor.
Perbedaan utamanya adalah Athlon64 3200 berjalan di clock 2GHz, menggunakan socket 754, dan memory interface 64-bit. Sedangkan Athlon FX-51 berjalan di clock 2.2GHz, menggunakan socket 940 (seperti opteron), dan menggunakan memory interface 128-bit.

Chipset motherboard yg saat ini mendukung kedua prosesor ini adalah VIA K8T800 dan Nforce3 yg keduanya mengusung feature HyperTransport. VIA K8T800 saat ini adalah yg lebih matang, mengingat Nforce 3 masih memiliki masalah di AGP bus yg mengakibatkan lambannya kinerja AGP bus.

Karena jenis socket kedua prosesor ini berbeda, maka tentunya juga membutuhkan tipe motherboard yg berbeda pula, apalagi jenis memory yg digunakan untuk kedua prosesor ini juga berbeda. Athlon64 3200 menggunakan memory single-channel DDR PC3200. Sedangkan Athlon FX-51 menggunakan dual-channel Registered DDR PC3200 yg langka dan mahal harganya.

Dalam hal overclock, Athlon64 3200 dan Athlon FX-51 boleh dibilang mengecewakan karena ketidakmampuan chipset motherboard VIA K8T800 maupun Nforce3 untuk mengunci clock PCI dan AGP di 33/66Mhz dalam kondisi FSB yg dinaikkan. Akibatnya bila anda mengoverclok dengan menggunakan FSB yg terlalu tinggi dapat mengakibatkan kerusakan peripheral PCI, AGP, dan yg cukup parah adalah kerusakan data di hardisk seperti yg dialami oleh saya ketika mencoba mengoverclock prosesor ini.
Hancurnya data di hardisk sempat mengacaukan jadwal review, dan karena waktu terlalu singkat utk melakukan instalasi dan pengujian ulang maka hasil benchmark yg disertakan untuk sementara hanya kinerja dalam keadaan tidak dioverclock.

Clock PCI dan AGP yg teroverclock dapat menyebabkan peripheral PCI seperti soundcard, modem, dan LAN tidak bekerja. Peripheral onboard biasanya juga tidak suka dgn clock PCI yg terlalu tinggi. Hardisk bahkan dapat menurun kinerjanya pada clock PCI yg tinggi akibat banyaknya sinyal eror yg mengakibatkan pembacaan ulang, bahkan datanya dapat rusak total hingga harus diformat ulang.
AGP card seperti ATI Radeon juga termasuk AGP card yg tidak menyukai clock AGP yg tinggi. Sedangkan Geforce mampu bertahan. Namun performa ATI Radeon yg cenderung lebih unggul & lebih murah dibanding Geforce membuat tidak adanya feature untuk mengunci clock PCI & AGP menjadi hal yg sangat mengganggu pada platform Athlon 64 & Athlon FX-51, terutama karena multiplier yg dikunci pada Athlon64 sehingga satu-satunya cara utk mengoverclock hanyalah menaikkan FSB.
Tampaknya hingga saat ini hanya chipset motherboard Intel dan Nforce2 saja yg bisa mengunci clock PCI&AGP dalam kondisi FSB teroverclock.

Image prosesor AMD sebagai prosesor yg murah dan overclocker-friendly kini memang tidak ada lagi. Kenikmatan multiplier yg terbuka serta clock PCI & AGP yg terkunci (pada Nforce2) kini tak dapat anda rasakan. Belum lagi bandrol harga $500 untuk menebus Athlon64 3200 tentu akan membuat orang mundur teratur. Apalagi Athlon FX-51 yg dipatok dengan harga $700 ternyata masih juga memburuhkan memory khusus (Dual-channel Registered DDR PC3200) yg selain langka juga mahal.

Mendapatkan Athlon64 dan Athlon FX-51 di Indonesia bukanlah sesuatu yg mudah. Untuk mendapat testing unit, REVIEWLAND terpaksa mendatangkan dari rekan di Singapore. Semua prosesor dikemas dalam bundle motherboard MSI (VIA K8T800) yg datang bersama memory Registered DDR (untuk Athlon FX-51), yg tentu saja juga sulit ditemukan di Indonesia.

Meskipun kesemuanya itu saat ini termasuk barang langka di Indonesia, namun kinerja yg dihasilkan ternyata sama sekali tidak langka, karena untuk mendapatkan kinerja melebihi Athlon64 3200 (L2 cache 1MB), anda dapat menggunakan P4 2.4C@3.3 (L2 cache 512KB).
Kinerja Athlon FX-51 juga tidak terlalu spektakuler, mengingat di beberapa benchmark bahkan dapat dikalahkan oleh P4 2.4C@3.3

Satu hal yg perlu diingat adalah:
Beralih ke platform Athlon64 3200 akan memakan biaya yg 3X-5X  lebih mahal drpd beralih ke platform P4 2.4C, dan performa yg dihasilkan Athlon64 3200 masih dibawah P4 2.4C@3.3

Seri Athlon 64-bit sebenarnya merupakan reaksi dari AMD atas kekalahannya yg terus menerus selama ini oleh Intel di platform 32-bit.
Karena merasa tidak mungkin mengalahkan Intel di platform 32-bit yg umum kita pakai sehari-hari, maka AMD mencoba melarikan diri memasuki platform 64-bit yg umumnya merupakan segmen kelas server, yg selama ini tidak didominasi Intel, tapi lebih didominasi oleh prosesor buatan Sun, Motorola, Apple.
Sadar bahwa tidak mungkin dapat menuai uang yg banyak dari segmen server yg marketnya kecil itu, AMD meluncurkan prosesor 64-bit yg juga mampu berjalan pada platform 32bit.
Harus diakui bahwa hingga detik ini, untuk segmen kelas desktop semua aplikasi yg ada adalah aplikasi 32-bit. Untuk merubah segmen kelas desktop dari platform 32-bit ke 64-bit bukanlah pekerjaan yg mudah, karena itu berarti seluruh pengguna komputer di dunia juga harus mengganti seluruh operating system dan aplikasi 32-bit yg telah banyak digunakan saat ini.

Intel saja yg notabene merupakan produsen prosesor yg menguasai market share terbesar (83%) merasa belum waktunya untuk merubah segmen desktop ke platform 64-bit, maka langkah yg diambil AMD untuk "mengubah dunia" tergolong cukup berani, mengingat market AMD hanyalah berkisar 15% saja.
Tindakan AMD ini bahkan terkesan nekat. Sama seperti petinju yg putus asa karena tak pernah bisa mengalahkan Mike Tyson di ring maka ia akan nekat mencoba cara lain untuk mengalahkan Mike Tyson dengan bertinju di kolam renang. Tapi bila sebagian besar penonton tinju ternyata masih lebih menyukai pertandingan tinju di atas ring, maka tindakan yg dilakukan oleh petinju tsb akan sia-sia.

Sama seperti bila para developer OS dan aplikasi enggan untuk beralih dari 32-bit ke 64-bit maka usaha yg dilakukan AMD juga akan sia-sia. Bagi developer software peralihan dari 32-bit ke 64-bit bukanlah langkah yg mudah dan akan menelan banyak biaya. Dan apabila software 64-bit tsb nantinya hanya bisa dijalankan di prosesor Athlon64 yg notabene marketnya sangat kecil, maka hal itu tentu sangat tindak menguntungkan dari segi bisnis. Bagi para developer software akan lebih menguntungkan untuk membuat software 32-bit yg notabene bisa dijalankan di banyak prosesor yg ada saat ini.
Microsoft sebagi penguasa utama operating system untuk segmen desktop bahkan terasa malas-malasan untuk meluncurkan operating system 64-bit mereka (WindowsXP 64-bit). Bahkan OS tersebut tidak terlalu banyak mendapat dukungan dari pihak ketiga yg ditandai dengan sangat minimnya driver yg ada.
Dinginnya respon dari Microsoft dan developer software yg lain, semata karena AMD bukanlah pemegang market share terbesar di segmen komputer desktop. Jadi dengan mendukung AMD mereka tidak dapat berharap keuntungan yg banyak.

Sebenarnya Athlon seri 64-bit merupakan revolusi besar-besaran yg dilakukan oleh AMD.
Usaha & biaya riset yg dilakukan AMD untuk menciptakan seri Athlon 64-bit tentu jauh lebih besar dibanding inovasi terbaru intel yg cuma menambahkan L3 cache saja pada arsiotektur P4 lawas mereka.
Meski demikian hasil benchmark nanti membuktikan bahwa kerja santai intel ternyat masih sanggup mengalahkan kerja keras yg telah dilakukan AMD.

 

 

redball.gif (916 bytes)ABIT IS7 / IS7-E (i865PE) : SARANA MURAH INTEL MENUJU ANGKA 3.6GHZ

p4htee-is7.jpg (55480 bytes)
ABIT IS7/ IS7E: Favorit overclocker yg terbukti stabil membawa P4 Extreme Edition ke angka 3.6GHz dan FSB 1100 lebih, dengan bandrol cuma $110 saja

Di masa-masa awal peluncuran P4 FSB800, i875PE dinobatkan chipset yg dapat menghasilkan performa lebih baik karena dibekali teknologi PAT (Performance Acceleration Technology) yg tidak ada pada i865PE.
Demi memperoleh feature PAT, konsumen berbondong-bondong membeli moterboard i875P yg harganya mahal.
Namun setelah target penjualan chipset i875P yg mahal itu tercapai, intel akhirnya memperbolehkan para produsen motherboard utk meng-enable PAT pada chipset i865PE yg harganya murah-meriah.
Dengan begitu performa motherboard i865PE akhirnya menyamai bahkan melebihi i875P.
Janganlah heran dgn hal semacam itu, karena strategi brilian seperti itulah yg membuat Intel menjadi market leader.

Salah satu motherboard i865PE yg jelas-jelas mensupport PAT dan P4 Extreme Edition adalah ABIT IS7/IS7-E.
ABIT sebagai produsen motherboard overclocker no.1 di dunia berhasil menyingkirkan pesaingnya dengan membekali IS7 dengan kestabilan dan fasilitas tweking yg super lengkap, dan tentunya dengan harga yg cukup murah.
ABIT IS7 dibandrol dengan harga $125 dan IS7-E (tanpa Firewire) dgn harga cuma $110 saja. Bagi yg menginginkan fasilitas overclocking on-the-fly juga ada ABIT AI7 (GURU) dgn harga $145. Ketiganya menggunakan chipset i865PE yg performanya setara dengan i875P, namun tentu jauh lebih murah. Sebagai catatan, harga motherboard i875P rata-rata mendekati $200.

p4htee-nbridge.jpg (24677 bytes)
Northbridge IS7: Dibekali heatsink raksasa + fan 5273 RPM demi kestabilan di FSB tinggi

Dengan Bios terbaru, IS7/IS7E dapat mensupport P4 3.2 Extreme Edition. Ini membuktikan bawha prosesor Intel yg termahal ternyata kompatibel dgn motheboard seharga cuma $100

p4htee-biosl3.gif (18758 bytes)
Bios versi 17: Sudah support P4 Extreme Edition (L3 cache 2MB)













p4htee-biospat.gif (23218 bytes)
Variasi setting PAT yg oleh ABIT dinamakan Game Accelerator Technology (GAT)

Salah satu keunggulan IS7 adalah kemampuannya utk mendisable PAT secara manual bila mengoverclock dengan FSB tinggi, suatu hal yg tidak bisa dilakukan pada motherboard berchipset i875P, sehingga dengan begitu overcloking pada i865PE sebenarnya jauh lebih stabil dibanding pada i875P.
Pada BIOS IS7/IS7E, anda dapat menggatur setting GA (Game Accelerator) ke Turbo, Street Racer, atau F1 bila anda ingin meng-enable PAT.
Sedangkan pilihan Auto akan mematikan PAT.
Pada FSB 230 keatas, PAT akan langsung disable bila anda memilih setting selain F1. Meski setting Turbo dan StreetRacer tetap tidak meng-enable PAT pada FSB tinggi, namun masih bisa mendongkrak kinerja. Setting F1 akan memaksa penggunaan PAT pada FSB berapapun. Namun pengujian membuktikan bahwa pada FSB tinggi PAT lebih baik dimatikan demi kestabilan.

p4htee-biosvcore.gif (34482 bytes)
Pilihan Vcore mulai dari 1.5V-1.875V

Pilihan Vcore yg disediakan oleh IS7 cukup banyak, yaitu mulai dari 1.5V hingga 1.875V. Namun experimen membuktikan bahwa untuk mengoverclok P4 3.2EE ke 3.6GHz cukup dengan vcore default saja. Dan utk mengoverclok P4 2.4 ke 3.3GHz cukup dengan vcore 1.575V saja. Overclocking dengan voltase rendah tidak akan memperpendek umur prosesor.

Pada IS7/IS7E, pilihan Voltase memory (VDDR) maksimal adalah 2.8V. Voltase ini masih cukup utk membawa memory DDR PC3200 ke angka 220MHz dengan timing CL2-6-3-3 dan setting StreetRacer. Namun bagi yg merasa ingin mengoverclock lebih tinggi, anda bisa memilih ABIT AI7 yg menyediakan pilihan VDDR hingga 3.2V.
Sebenarnya overclocking memory tidak terlalu penting, sebab nanti akan terbukti bahwa memory clock yg tinggi pada platform P4 FSB800 tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.

p4htee-biosagppci.gif (18691 bytes)
AGP & PCI fix: Overclocking FSB tanpa resiko kerusakan hardware dan tanpa resiko kerusakan data di hardisk anda

Satu hal yg paling penting adalah fasilitas pengunci clock PCI/AGP. Jadi pada FSB berapapun clock PCI & AGP akan selalu fixed sesuai standard (33MHZ & 66MHz).
Feature ini kian penting karena untuk mendapat performa terbaik, FSB harus digenjot setinggi mungkin. Dan dengan adanya pengunci clock PCI & AGP, maka overcloking FSB menjadi aman untuk dilakukan tanpa resiko kerusakan peripheral PCI dan AGP. Rusaknya data di hardisk akibat overclocking FSB juga dapat dihindari dengan adanya feature ini.

Disertakannya fasilitas pengunci clock PCI & AGP sudah merupakan tradisi yg ada pada chipset intel dan tampaknya sulit diterapkan pada chipset lain.
Hingga kini hanya chipset intel dan Nforce2 saja yg memiliki fasilitas pengunci clock PCI & AGP. Sementara chipset lain (seperti buatan VIA dan SIS) boleh dibilang sebagai "chipset yang tidak sempurna" karena tidak mampu menyertakan fasilitas pengunci clock PCI dan AGP.

Chipset terbaru utk Athlon 64-bit yaitu VIA K8T800 juga sama sekali tidak bisa mengunci clock PCI  dan AGP. Sedangkan Nforce3 hanya bisa mengunci clock AGP saja. Pada kedua chipset yg "tidak sempurna" ini, overclocking FSB tentu dapat mengakibatkan tidak berfungsinya peripheral PCI seperti souncard, LAN, SCSI card, dan kerja hardisk pun dapat terganggu sehingga dapat timbul kerusakan data. Peripheral onboard juga sangat rewel dengan PCI clock yg melebih standardnya.

p4htee-biosdramratio.gif (22819 bytes)
DRAM Ratio 5:4 dan 3:2 dapat dipilih agar FSB tinggi dapat dicapai tanpa harus terhambat oleh keterbatasan memory clock

IS7/IS7E menyediakan pilihan DRAM ratio yg cukup komplit.
Adanya DRAM ratio sangat penting, karena peningkatan  kinerja yg maximal akan didapt dengan menaikkan FSB setinggi mungkin. Sedangkan menaikkan memory clock tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja.
Sewaktu mengoverclok dengan FSB tinggi anda dapat menggunakan DRAM ratio 4:4 atau 3:1 agar memory anda tidak teroverclok terlalu tinggi diluar batas kemapuannya.
Pada FSB 275 anda tidak harus menggunakan memory yg mampu berjalan di 275MHz, yaitu DDR550 / PC4400. Kalaupun memory seperti itu ada tentu harganya sangalah mahal. Tapi anda cukup menggunakan DRAM Ratio 5:4 sehingga memory anda cuma berjalan di 220MHz saja. Memory PC3200 yg berkualitas biasanya mampu berjalan stabil di 220MHz. Namun bila masih belum mampu anda dapat menggunakan setting DRAM Ratio 3:2 sehingga mermoy anda cuma berjalan di 185MHz saja. Anda tak perlu mengkhawatirkan memory clock yg pelan, karena pengaruhnya kecil terhadap kinerja. Yang justru berpengaruh adalah FSB yg tinggi. Hal ini nanti akan dibahas lebih lanjut.
Jadi intinya, janganlah terlalu tergiur untuk membeli memory mahal ber-spek tinggi seperti DDR500 (PC4000), karena uang yg anda keluarkan tidak akan membawa peningkatan performa yg signifikan

 

redball.gif (916 bytes)PAT PADA CHIPSET i865PE : i875P YANG MAHAL ITU BOLEH DILUPAKAN

PERBANDINGAN BERBAGAI  SETTING PAT* & MEMORY TIMING
* juga disebut sebagai GAT (Game Accelerator Technology)

P4 3.2EE+ABIT IS7 (i865PE)
(fsb200/mem200)
. . Sisoft Sanda Memory (int / float)
GA: F1, CL2-5-2-2
$900 5094/5057
GA: StreetRacer, CL2-5-2-2
5049/5027
GA: Turbo, CL2-5-2-2
5037/5024
GA: F1, CL2-6-3-3
$700 5022/4998
GA: StreetRacer, CL2-6-3-3
$160 4998/4956
GA: Turbo, CL2-5-2-2
4973/4951
GA: Auto (PAT: off), CL2-5-2-2
4635/4633
GA: Auto (PAT: off), CL2-6-3-3
4603/4565

 

Dengan adanya PAT pada i865PE, maka tentu saja tidak ada lagi alasan yg bagus utk membeli motherboard berchipset i875P yg notabene harganya 2X lebih mahal.
Intel sendiri tidak terlalu peduli bila konsumen nanti beralih ke motherboard i865PE karena target penjualan chipset i875P sudah tercapai, yg tentu berkat merahasiakan adanya PAT pada i865PE sewaktu memperkenalkan i875P pertama kali.

Di awal-awal masa peluncuran i875P, memang terlihat bahwa perbedaan kinerja antara i875P dengan i865PE sangat kontras. Namun itu semata karena tidak diaktifkannya PAT pada i865PE.
Begitu Intel mengijinkan produsen motherboard utk meng-enable PAT pada i865PE, performanya langsung melejit jauh, bahkan sedikit diatas i875P.

Produsen motherboard i865PE seperti ABIT menyediakan setting Game Accelerator (GA) yg tak lain adalah setting utk mengatur kecepatan PAT dan juga bisa untuk men-disable PAT.

Pada tabel diatas dapat anda lihat bahwa meskipun berbagai pilihan setting PAT seperti F1, StreetRacer dan Turbo mampu mendongkrak memory bandwith, namun penggunakan timing yg gegas (CL2-5-2-2) juga memberikan peningkatan yg cukup banyak dibanding timing yg lebih lambat CL2-6-3-3.
Setting Auto berguna untuk men-disable PAT. Pada motherboard i875P, men-disable PAT malah tidak bisa dilakukan dan inilah yg biasanya justru menyebabkan ketidakstabilan ketika melakukan overclocking dgn FSB tinggi. Pada i875P, untuk mencapai kestabilan di FSB tinggi dengan PAT enabled, biasanya voltase DDR terpaksa harus digenjot diatas 3V dimana belum tentu semua memory sanggup dan jelas akan merusak keping memory tsb untuk untuk pemakaian jangka panjang.
Sedangkan Pada i865PE, PAT dapat di-disable demi kestabilan di FSB tinggi tanpa harus menggunakan Voltase DDR yg terlalu extrim.
Kemampuan mencapai FSB lebih tinggi jauh lebih penting daripada PAT, karena FSB yg lebih tinggi berarti CPU clock yg dicapai lebih tinggi. Selain itu dengan FSB tinggi, maka memory bandwith juga akan meningkat drastis meski tanpa adanya PAT

 

redball.gif (916 bytes)ANOMALI INTEL: MEMORY BANDWITH TINGGI CUKUP DENGAN MEMORY CLOCK RENDAH

p4htee-p432sisoftmem.jpg (54032 bytes)
Memory clock 184MHz: Bandwithnya hampir mendeketi memory di clock 250MHz (PC4000)

Banyak orang yg masih mengira bahwa satu-satunya cara untuk mencapai memory bandwith yg tinggi adalah dengan memory clock yg tinggi.
Pada platform generasi lama mungkin hal tersebut berlaku, namun pada platform P4 FSB800 (i865PE dan i875P), hal tersebut tak berlaku lagi, karena FSB yg tinggi berhasil menghilangkan sebagian besar bottleneck pada system memory.
Oleh karena itu meskipun memory clock yg digunakan rendah, namun bila FSB-nya digenjot cukup tinggi maka memory bandwith tetap saja dapat meningkat drastis. Selain itu menggenjot FSB juga dapat mendongkrak performa "real world" (performa utk menjalankan aplikasi betulan).
Sedangkan bila hanya menggenjot memory clock saja, maka peningkatan kinerjanya tidak terlalu signifikan, kalaupun ada yg meningkat hanyalah memory bandwith di benchmark sintetis saja, sedangkan performa "real world"-nya tidak mengalami peningkatan.

Jadi intinya, pada P4 FSB800 mengoverclok FSB jauh lebih bermanfaat dibanding mengoverclock memory.

Pada tabel di bawah dapat anda lihat bahwa meski dengan memory clock yg rendah, memory bandwith dapat meningkat drastis bila FSB dinaikkan. Atau dengan kata lain, penurunan memory clock tidak berarti penurunan memory bandwith bila FSB digenjot naik.

GA:F1, CL2-5-2-2 . . Sisoft Sanda Memory (int / float)
FSB: 277 , MEMORY: 185
PAT: off
5532/5517
FSB 225 , MEMORY: 180
PAT: on
5095/5058
FSB 200 , MEMORY: 200
PAT:
on
5094/5057

 

 

redball.gif (916 bytes)ABIT NF7-S rev. 2.0: PLATFORM MURAH BERFASILITAS MEWAH

p4htee-is7.jpg (55480 bytes)
ABIT NF-7S: Motherboard idola overclocker seharga $115 yg kualitas sound onboardnya setara SoundBlaster Audigy

Tak dapat dipungkiri bahwa hingga detik ini, chipset Nforce2 merupakan chipset terbaik sekaligus paling sempurna untuk AthlonXP.  Bahkan dibandingkan Nforce3 yg merupakan chipset untuk Athlon64, Nforce2 jauh lebih sempurna.
Nforce2 adalah chipset satu-satunya untuk platform AMD yg mampu mengunci clock PCI dan AGP. Jadi hanya overclocker tolol yg menolak menggunakan chipset Nforce2 untuk AthlonXP.

Selain itu chipset southbridge Nforce 2 (MCP-T) merupakan satu-satunya chipset yg mengintegrasikan onboard audio dengan kualitas & CPU utilization yg  lebih baik dibanding Sound Blaster Audigy.
Jadi boleh dibilang bahwa nforce 2 adalah chipset pertama yg berhasil membuktikan kepada dunia bahwa kualitas sound onboard mampu mengalahkan sound card apapan atas.

ABIT NF7-S merupakan motherboard Nforce2 yg cukup digandrungi kalangan overclocker. Dengan kestabilan dan kelengkapan fasiltas tweaking khas ABIT, motherboard ini menjadi platform pengujuan untuk AthlonXP1700@3300 yg pada beberapa benchmark terbukti masih sanggup untuk mengalahkan Athlon64 3200.

 


NEXT PAGE (benchmark) >

 

w e b d e s i g n by

www.budzkay.net

2004 Budz Kay Webdesign, All rights reserved
please contact webmaster for any web related problem